Alskar Dig
by Michael Vincent
Keimi Shantolika adalah seorang gadis yang baru saja melewati masa SMAnya. Dia memiliki kehidupan yang menarik bersama teman-temannya yang konyol, Ensi Xao dan Sharimackenzie. Mereka bertiga bisa menjadi amat-sangat ribut jika sudah membicarakan satu topik, apalagi kalau bukan… cowok.
Keimi tak bisa berhenti menebak-nebak karakter Edo Cho setelah pertemuan pertamanya dengan lelaki itu. Keimi begitu senang ketika menerima SMS dari Edo yang mengatakan bahwa dirinya akan berada di lapangan basket esok malamnya. Sudah begitu senang, rupanya Keimi harus merasa kecewa karena Edo tidak menepati janjinya. Edo tidak tahu Keimi sudah begitu menantikan pertemuan itu, sudah berusaha menebak-nebak jalannya adegan pertemuan mereka. Ternyata… Edo malah sedang asyik berdua bersama seorang gadis lain di kafe.
Keimi merasa bingung mengenai perasaannya sendiri terhadap Edo Cho. Ia tidak begitu merindukannya meski sulit juga melupakan sosoknya. Belum lagi ditambah perasaan termotivasi dirinya kepada dua teman terbaiknya. Ensi yang memiliki Ricardo sebagai pujaannya dan Sharima yang memiliki Ryanandar. Apakah ia benar-benar menginginkan Edo di hatinya? Keimi sendiri meragukannya meski ia merasa hidupnya mulai hampa tanpa sosok Edo.
Mengirimkan SMS berbunyi “hi” kepada Edo rupanya berbuah manis. Edo mengajaknya lagi untuk bertemu di lapangan. Untungnya kali ini Edo benar-benar datang. Dia menepati janjinya. Keimi merasa sedikit salah tingkah, namun Edo yang berpembawaan santai perlahan-lahan membuatnya merasa relax. Malam itu, Keimi mencatat banyak sekali hal baru mengenai sosok Edo. Keimi pun semakin terpikat pada Edo. Setelah semua yang dikatakan Edo. Setelah semua yang dilakukan Edo.
Pembicaraan teman-temannya mengenai cowok-cowok mereka membuat Keimi semakin berpikir. Bagaimanakah hubungannya dengan Edo kelak? Tahukah Edo mengenai perasaan yang dipendamnya? Apa yang harus dilakukannya? Semoga saja ada jawaban untuk semua pertanyaan itu.
Belum juga selesai kepusingannya terhadap Edo, muncul pula Syah Dian. Berondong manis tapi nyolot yang pernah mengisi hidupnya dulu. Dilema pun mulai menghantui Keimi. Daya tarik dirinya dan Syah begitu tinggi, sementara Edo begitu memesona hatinya.
Hujan turun ketika Keimi berada di depan rumah Edo. Dia menemukan Edo yang baru saja pulang kerja dan tidak enak badan. Keimi pun merawat Edo dengan tulus. Meski jantungnya sulit berdetak normal karena harus menahan perasaan tertariknya pada Edo yang meskipun sakit namun tetap memikat. Ditambah malam itu, Edo mencium bibirnya entah dalam keadaan sadar atau tidak.
Syah Dian pun kembali memasuki hidup Keimi, dengan lebih intens pula. Dengan kenyolotannya, juga pengakuannya bahwa ternyata dulu ia menolak kembali dengan Keimi hanya karena ingin membuat Keimi menyesal telah putus dengannya. Keimi juga mulai menyukai Syah Dian lagi. Meski ia menyadari, perasaan seperti ini begitu menyiksa dirinya.
Tapi kerumitan pikirannya berhasil terselesaikan ketika ia terlibat dalam pembicaraan singkat dengan Sharima pada pertemuannya di Hotel Shangri-la. Sharima berhasil meyakinkan hati Keimi tentang seseorang yang benar-benar dicintainya. Cinta pertama memang sangat penting tapi pada saat kita mencintainya… dulu. Tapi sekarang tidak lagi.
Yang kini dicintai Keimi adalah Edo, bukan pria lain. Bukan Syah. Syah hanyalah kisah manis masa lalunya. Perasaannya kini benar-benar bulat. Tak bisa ditawar-tawar lagi. Hatinya hanya untuk Edo. Berbekal keyakinan itu, Keimi akhirnya bisa menolak Syah dengan tegas, menghempaskan diri Syah jauh dari hidupnya.
Saat sedang sibuk memikirkan Edo Cho di lapangan basket, tidak sengaja Keimi berteriak keras bahwa ia mencintai lelaki itu. Suara bola basket jatuh dan Edo mendengar pernyataan Keimi itu.
Pernyataan cinta yang tak tehindarkan, perasaan cinta yang saling mendera, rasa ingin saling memiliki yang menguat di antara mereka pun tak bisa lagi bersabar untuk segara menyatukan cinta mereka. Mereka berdua akhirnya berani menunjukkan isi hatinya masing-masing.
Keimi cinta Edo. Edo cinta Keimi. Tuhan pun membiarkan percintaan mereka terjalin. Bahagia kini menjadi milik hati keduanya.
10.45
Sabtu, 5 Desember 2009
Calvin
Notes:
Penasaran sama novelnya? Beli aja nanti di toko buku.
Gw doain novel ini diterima sama penerbit yahh.....
Gw suka sama adegan2 di novel ini yg bikin deg2an. Terutama bab 7 dan bab terakhir.
=)
2009/12/05
UAS. Ujian Akhir Sengsara.
Yap. Gw lagi sibuk-sibuknya belajar buat UAS. Pusing, muak, bosen, itu udah pasti. Meski gw sebenernya lumayan suka belajar, tapi tetep aja kalau dalam dosis banyak rasanya eneg. Segala sesuatu yang berlebihan kan biasanya gak baik.
Gw udah stres banget sama yang namanya manajemen. Bahan UASnya ada 8 chapter. Satu chapternya bisa dibahas berlembar-lembar dan berbawel-bawel.
Pusinggggggggggggggggggggggg!!!!! Kepala gw bahkan sekarang rasanya sakit setelah ngereview chapter manajemen keuangan.
Di samping itu, gw berhasil nyelesaiin sinopsis buat novelnya Michael Vincent yang berjudul Alskar Dig. Seneng rasanya bisa ngehasilin satu tulisan.
Gw gak tau mau ngomong apa lagi. Gw mau belajar dulu yahhhhhh.,. Biar gw gak terlalu sengsara lagi besok.
Yang mau baca sinopsis Alskar Dig, gw post di atas yahh!!
Gw udah stres banget sama yang namanya manajemen. Bahan UASnya ada 8 chapter. Satu chapternya bisa dibahas berlembar-lembar dan berbawel-bawel.
Pusinggggggggggggggggggggggg!!!!! Kepala gw bahkan sekarang rasanya sakit setelah ngereview chapter manajemen keuangan.
Di samping itu, gw berhasil nyelesaiin sinopsis buat novelnya Michael Vincent yang berjudul Alskar Dig. Seneng rasanya bisa ngehasilin satu tulisan.
Gw gak tau mau ngomong apa lagi. Gw mau belajar dulu yahhhhhh.,. Biar gw gak terlalu sengsara lagi besok.
Yang mau baca sinopsis Alskar Dig, gw post di atas yahh!!
Labels:
mind
2009/11/29
Daftar Fiksi Karya Gw
Beberapa fiksi karya gw draftnya udah ngilang. Jadi biar gw inget sama fiksi yang udah pernah gw buat, gw bikin daftarnya.
2010
Novel: Romansa Hitam
2009
Hari Kita Putus
CaSh **: Benar kan?
Sejak
LULUS! (feat Merry)
Bahagia
Sebuah Ciuman
Senja
Bersamamu
Serial: Simpanan
Kata Cinta
Cinta Tak Peduli
Marriage Time
Serial: The Terror Guy (feat Merry)
2008
Ulang Tahun Rivorium
Hepi Palentin***
Ayam Bakar dan Hati Bakar***
JuCaSh*: Getar-Getar Misteri
Hari Ini
Makan Tuh Cinta!
Cinta Tuh Makan! ****
Apa Gue Jatuh Cinta? ****
Novel: Basket dan Basket
CaSh: Rambut-Rambut Cinta
Kucing Siam dari Persia
2007
April's Fool (dh Gara-Gara Surat Brengsek!)
Fight Fight Fight for Love ***
When I Wish Upon A Star
Opposite
2006
Yours ***
Guess What? ****
2005
Novel: Suka atau Cinta? ****
Novel: Benci!!! (Benar-Benar Cinta) ****
Keterangan:
* Julmita, Calvin, Shelyna
** Calvin, Shelyna
*** Ada rencana untuk digarap ulang
**** Draftnya udah hilang
2010
Novel: Romansa Hitam
2009
Hari Kita Putus
CaSh **: Benar kan?
Sejak
LULUS! (feat Merry)
Bahagia
Sebuah Ciuman
Senja
Bersamamu
Serial: Simpanan
Kata Cinta
Cinta Tak Peduli
Marriage Time
Serial: The Terror Guy (feat Merry)
2008
Ulang Tahun Rivorium
Hepi Palentin***
Ayam Bakar dan Hati Bakar***
JuCaSh*: Getar-Getar Misteri
Hari Ini
Makan Tuh Cinta!
Cinta Tuh Makan! ****
Apa Gue Jatuh Cinta? ****
Novel: Basket dan Basket
CaSh: Rambut-Rambut Cinta
Kucing Siam dari Persia
2007
April's Fool (dh Gara-Gara Surat Brengsek!)
Fight Fight Fight for Love ***
When I Wish Upon A Star
Opposite
2006
Yours ***
Guess What? ****
2005
Novel: Suka atau Cinta? ****
Novel: Benci!!! (Benar-Benar Cinta) ****
Keterangan:
* Julmita, Calvin, Shelyna
** Calvin, Shelyna
*** Ada rencana untuk digarap ulang
**** Draftnya udah hilang
Simpanan
Awal Mula
Andai saja dosa manusia seperti noda pakaian yang bisa dicuci bersih tanpa bekas, segalanya pasti baik-baik saja. Aku pasti tidak akan seperti sekarang. Mendekam dalam rasa bersalah yang begitu menyiksa.
Tuhan memang adil. Segala perbuatan manusia pasti akan meninggalkan bekas. Terlalu naïf rasanya jika seseorang berpikir ia tidak akan menghasilkan apapun dari perbuatannya.
Aku Erika. Berusia 22 tahun. Aku wanita muda yang dengan bodoh mau saja menjadi tempat persinggahan seorang lelaki yang ingin mendapatkan kenikmatan rasa baru. Rasa nikmat yang diberikan wanita lain selain istrinya.
Pria itu hanya merasa tertekan dengan pekerjaannya yang berat. Ia bukannya tidak puas dengan sang istri. Ia ingin mencari sebuah hiburan yang segar namun tidak murahan. Yang benar saja, ia menginginkan perempuan yang dianggapnya baik-baik untuk disinggahinya di luar rumah. Dan menurutnya, aku termasuk dalam kategori perempuan baik-baik.
Aku memang bukan pekerja seks komersil—kategori inilah yang menurutnya bukan perempuan baik-baik. Aku adalah putri semata wayang dari keluarga sederhana yang terpelajar. Bisa dikatakan aku tidak beruntung. Kedua orangtuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Mereka tidak meninggalkan apa-apa. Aku tidak punya keluarga lagi selain mereka. Sejak menikah, kedua orangtuaku tidak diakui lagi keberadaannya oleh para kerabat mereka. Rupanya pernikahan mereka tidak direstui.
Mengetahuinya, aku jadi berpikir usil. Apakah ini akibat dari sebuah pernikahan tanpa restu? Hingga membuat seorang anak akhirnya menderita dan tidak bisa meraih impiannya.
Apa impianku? Sederhana, aku hanya ingin sukses menjadi seorang pengacara. Namun, karena sebuah alasan klise—apalagi kalau bukan finansial, aku harus putus kuliah.
Aku sempat menertawai nasibku sendiri. Kasihan sekali kau, Erika. Uang tidak punya. Pendidikan hanya sampai SMA. Tentu kau tahu kan Erika, dengan ijazah SMAmu, kau bisa bekerja sebagai apa? Paling-paling hanya pelayan restoran, kasir supermarket, atau apapun yang tidak lebih baik dari itu kecuali jika nasib baik berpihak padamu.
Selanjutnya, semua berubah. Setelah hari ketika aku bertemu dengannya. Dengan seseorang yang selama ini kupanggil dengan sebutan Paman. Namanya Rio Wijaya. Ia seorang pebisnis handal yang mengendalikan sebuah perusahaan terkemuka. Kami bertemu ketika aku sedang meminta pekerjaan pada temanku di sebuah restoran yang menyajikan makanan khas Korea.
Siang itu hujan turun dengan derasnya. Aku tidak bisa pulang dan harus berteduh di depan restoran sampai hujan mereda. Namun hujan tidak kunjung berhenti. Ketika itu, sebuah mobil hitam mewah baru saja diparkir tepat di hadapanku. Pintu dibuka dan keluarlah seorang pria berpenampilan rapi ala kantor. Seorang pegawai restoran terburu-buru memayunginya. Sebelum melewatiku, ia menatapku tajam. Benar-benar tajam. Aku menundukkan kepalaku. Menghindari tatapannya. Dia mendekatiku, aku mulai merasa ngeri. Dia menanyakan namaku. Aku menjawabnya takut-takut.
Dia memberikan perhatian lebih. Dengan kelembutannya, ia meluluhkan hatiku yang sedang galau. Hatiku yang terasa kacau dengan semua kemalangan yang terjadi beruntun. Orangtua meninggal sekaligus keduanya. Tidak punya cukup uang. Harus putus kuliah. Apakah hatimu tidak tersentuh ketika datang seorang pria—yang sayangnya tak terlalu muda lagi— yang begitu pedulinya pada dirimu ketika kau butuh pertolongan? Aku setuju ditraktirnya makan bahkan diantar pulang.
Waktu berlalu begitu cepat, aku semakin sering bertemu dia. Dia bersedia membiayai kuliahku—dengan alasan yang agak aneh, yaitu menambah calon-calon penerus bangsa terbaik. Aku begitu senang. Begitu naïf tidak mengetahui apa motif di balik bantuannya yang tampak begitu ikhlas. Aku bahkan berkata akan mengganti semuanya ketika bekerja nanti. Tentu saja ia menolak. Ia tidak menginginkan uangku.
Ia hanya menginginkan diriku. Semua tampak jelas ketika ia mencium bibirku. Semua begitu mengejutkan. Aku begitu syok sampai menangis semalaman di kamar. Bibirku yang tak pernah dicium oleh pria mana pun harus direlakan oleh seorang pria tua. Pria yang akhirnya kuketahui sebagai pria yang sudah beristri.
Setelahnya, aku pun jadi tahu apa statusku. Simpanan. Seorang wanita simpanan yang sebelumnya bahkan tak tahu dirinya adalah simpanan. Wanita bodoh perusak hubungan rumah tangga orang lain.
________________________________________________
Pusaran Emosi
“Dihabisin dong makanannya, Erika. Paman paling suka melihatmu makan dengan lahap,”
Mungkin ketika pertama kali mendengar kata-kata ini dari paman, aku bisa bergidik geli. Tapi ini sudah lebih dari satu tahun hubungan tidak sehat ini berjalan. Tentu aku sudah terbiasa merasakan perhatian yang tidak kuinginkan ini.
“Aku nggak nafsu makan,” kataku sambil memotong-motong daging ikan dengan malas. Sulit sekali memisahkan daging swordfish ini dari tulangnya. Pasti memasaknya jauh lebih mudah dari memakannya, Aku memang tidak nafsu makan. Selama satu tahun ini, aku memang jarang pernah punya nafsu makan. Aku selalu hanyut dalam perasaan tidak tenangku. Aku memang menyesali keputusanku menerima bantuan paman untuk kuliah. Tapi kupikir rasa penyesalanku tidak perlu dibiarkan berlarut-larut. Yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana aku kali ini harus tegas untuk mengakhiri segalanya yang sedang terjadi antara aku dan paman.
“Kenapa nggak nafsu makan? Apa perlu disuapin?” tanyanya sambil tersenyum. Nafsu makanku malah semakin drop mendengarnya. Sudah berkali-kali aku berkata padanya bahwa aku tidak ingin bertemu dan berhubungan lagi dengannya. Tapi, ketika aku mengatakan itu, sikapnya malah berubah jauh lebih lembut dan tulus. Dia terus meyakinkanku bahwa dia memerlukanku. Dan bahwa aku membutuhkan bantuannya. Biasanya, aku hanya bisa pasrah mendengarnya. Diam tak berkutik. Lagipula jika aku berusaha menghindar, ia selalu berhasil menemukanku dan memaksaku. Memusingkan sekali rasanya.
“Aku rasa ini adalah pertemuan terakhir kita. Aku baru saja dapat pekerjaan lumayan di sebuah perusahaan komputer. Biaya kuliah akan kuganti setelah lulus nanti,” ucapku tenang, datar, tanpa berusaha memandangnya sedikitpun.
“Berusaha memutuskan hubungan lagi?” tanyanya santai. Huh, mungkin ia berpikir kali ini aku akan dengan mudah luluh lagi untuk meneruskan hubungan kucing-kucingan ini.
“Bukan berusaha. Tapi memang memutuskan untuk putus. Nggak ada tawar-menawar apapun. Terserah paman mau nerima uang gantiku atau tidak, tapi aku tetap akan membayar. Selamat siang,” aku cepat-cepat berdiri, mengambil tas tanganku lalu segera meninggalkan meja lalu keluar dari restoran itu.
Paman mengejarku. Aku tetap berjalan. Terus menambah kecepatan langkahku. Tapi ia berlari kencang. Dengan amarah membara, ia menarik tanganku.
“Lepaskan tanganku!” aku membentak keras. Ikut terbawa emosi. Dia tidak punya hak apapun atas diriku. Aku tak harus bersamanya terus. Bentakkanku tidak membuat cengkramannya pada lenganku mengendur.
“Nggak. Sebelum kamu menarik kata-katamu. Kamu nggak bisa seenaknya memutuskan hubungan kita. Hanya aku yang bisa memutuskan hubungan kita,” ujarnya tajam.
“Kenapa begitu? Paman pikir jika paman udah membiayai kuliahku selama ini maka paman berhak atas diriku?” kutarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Enak aja. Jangan mentang-mentang aku nggak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi, paman jadi semena-mena. Aku nggak mau menjalani hubungan seperti ini. Aku muak!”
“Aku nggak bisa melepasmu karena aku nyaman bersamamu. Aku menemukan sebuah perasaan baru ketika aku bertemu denganmu. Kau begitu ceria, penuh semangat, muda, dan segar. Aku menikmati saat-saat kita berdua,” akhirnya ia melepaskan tanganku
“Aku nggak peduli. Itu adalah urusan paman. Aku harus melanjutkan masa depanku. Paman harus melanjutkan hubungan paman dengan istri paman. Bukan denganku,” aku kembali berjalan, tapi paman kembali dengan kasarnya menarikku masuk ke mobilnya.
Wajahnya merah. Tampak ia sedang menahan amarah yang begitu besar. Dia mencium bibirku dengan paksa. Aku begitu terkejut. Apalagi ketika lidahnya masuk menyusuri lidahku. Kugigit lidahnya kuat-kuat. Dia melepaskan ciumannya. Kesakitan. Lidahnya berdarah. Kutampar wajahnya.
“Paman keterlaluan. Jangan seenaknya memperlakukanku begitu,” aku berkata dingin
Sambil menahan marah, aku pun keluar dan membanting pintu mobil dengan keras.
*
Aku hampir saja sampai di rumah kosku. Dari kejauhan, kulihat sosok seorang pria muda berdiri seperti sedang menunggu seorang. Aku terus mendekat, tidak peduli. Aku sudah terlalu pusing memikirkan apa yang baru saja terjadi padaku. Aku merasa jijik dengan bibirku hingga tanpa sadar menyapunya kasar dengan punggung tanganku.
“Akhirnya kamu datang juga, Erika. Rasanya begitu lama menunggumu,” pria itu tersenyum lebar padaku.
“Juno?” ucapku refleks, terkejut menanggapi keberadaannya di rumahku. Sedikit perasaan senang menghinggapiku setelah memandangnya. Rasanya sudah begitu lama. Sudah setahun aku tak bertemu dengannya. Juga sudah selama itu aku memendam rasa rinduku yang begitu besar.
“Kupikir kamu sudah terlalu sibuk dengan lelaki tua itu hingga melupakan namaku. Rupanya masih ingat juga padaku?” ucapan dinginnya terasa seperti petir yang menggelegar di telingaku.
Kakiku melangkah mundur. Tubuhku terpaku. Begitu syok mendengar ucapannya yang setajam pisau. Jika bukan Juno yang mengatakannya, rasanya tak mungkin sesakit ini. Juno mengetahuinya. Juno yang pergi ke Pulau Jeju untuk urusan bisnis resortnya tahu bahwa aku adalah seorang simpanan. Juno lelaki seumur hidupku.
“Mau mengelak, Erika?” lanjutnya dengan nada tajam, “Masih mau bilang kalau kamu nggak pernah berhubungan dengan suami orang?!” hatiku perih mendengarnya. Mataku mulai terasa panas, sepertinya berkaca-kaca.
“Juno, aku nggak mengelak. Aku memang berhubungan sama dia,” aku berusaha tegar mengatakannya. Wajahnya berubah sinis.
“Kenapa kamu ngelakuin ini, Erika? Kenapa kamu nggak hidup dengan lebih baik?” ujarnya gemas
“Kamu nggak ngerti. Kamu nggak akan pernah mengerti,” air mataku sudah mengalir cepat. Aku tidak boleh cengeng. Tidak boleh.
“Ya, kamu emang susah dimengerti. Sampai-sampai mau berhubungan sama dia,” Juno beranjak pergi. Aku tak menghalanginya. Hatiku terasa begitu sakit.
Juno tak akan pernah mencintaiku. Harapanku sudah pupus. Kami tak akan pernah mungkin bersama lagi setelah kejadian ini. Ia pasti menganggapku perempuan murahan yang begitu menjijikan. Ia pasti sudah muak padaku. Bahkan tak mungkin lagi menjadi sahabatku seperti dulu. Rasanya harapanku bahwa suatu hari Juno akan mencintaiku harus dibuang mulai saat ini.
Semua karena satu hal. Karena aku menjadi wanita simpanan suami orang. Perbuatan paling picik yang pernah seorang wanita lakukan. Bahkan mungkin seorang pekerja seks komersil pun masih lebih baik dariku. Ia tidak merusak rumah tangga orang lain. Tapi aku pasti telah merusaknya.
Tangisku tetap berlanjut. Kini aku sadar bahwa hidupku telah hancur. Cinta pertamaku, bahkan aku berani mengatakannya sebagai cinta seumur hidupku sudah membenciku, menganggapku wanita hina.
Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku setelah hari penuh emosi ini? Jejakku sebagai wanita simpanan tak akan pernah terhapus dari hidupku.
Kini aku tak punya siapa-siapa lagi dalam hidupku. Bahkan seorang sahabat terbaik yang begitu kucintai.
Selamat hidup sendirian, Erika.
____________________________________________
Perceraian
Hari ini terasa melelahkan—dan tentu saja menyebalkan. Padahal aku sudah berusaha memfokuskan diri untuk bekerja. Benar-benar serius bekerja. Tapi pikiranku terus berputar-putar pada Juno, paman, dan istri paman. Mengapa semua harus serumit ini? Akibatnya, aku beberapa kali membuat kekeliruan dalam menyelesaikan analisa laporan keuangan perusahaan. Hasil analisaku dikatakan tidak valid dengan angka-angka yang tertera pada laporan itu.
Aku ditegur oleh sang manager—yang untungnya masih saja mau memaklumiku karena aku baru bergabung di perusahaan ini.
Tadi pagi sebelum bekerja, aku mengirimkan sebuah email kepada Juno. Kujelaskan semua apa yang kurasa perlu ia ketahui. Kutumpahkan segala perasaanku selama menjalani kehidupanku yang makin runyam akhir-akhir ini. Jujur saja aku berharap ia akan mengerti keadaanku yang sulit. Sehingga harus melakukan ini semua.
Kini aku sedang menuju gedung kampusku. Kebetulan aku mengambil kelas malam pada semester enam ini. Hampir saja aku masuk menuju gedung kampus, jika saja tidak ada sosok yang begitu kuat menarikku. Dan bahkan lebih parahnya lagi, ia lalu membopongku. Begitu terkejutnya aku ketika melihat wajahnya. Ternyata paman. Aku langsung meronta-ronta, berusaha melepaskan diri.
“Apa-apaan? Lepas! Lepaskan aku!” bentakku kesal, terlalu marah mengetahui apa yang diperbuat paman ini bisa merusak reputasiku di kampus ini
“Ternyata kamu gadis yang bodoh, Erika. Dengan berteriak-teriak seperti itu, pasti bertambah banyak orang yang melihat kita. Aku sih tidak peduli. Tapi tentu kamu peduli kan dengan nama baikmu di sini?” ucapnya tenang. Dan sayang kata-katanya benar.
Aku diam, merenggut sebal dan merasa jijik pada perlakuan tidak pantas yang kuterima. Seperti biasa, dia membawaku masuk ke mobilnya.
“Mau ngomong apa? Aku tidak punya banyak waktu. Ada mata kuliah penting yang harus kuikuti,” ujarku sinis
“Aku mau memberitahu kamu kalau sebentar lagi hubungan kita tidak akan menjadi suatu hubungan yang tersembunyi. Karena besok adalah sidang perceraian pertamaku dengan istriku. Kamu bisa lihat hasilnya. Cepat atau lambat kamu akan jadi istriku,”
Apa? Aku akan jadi istrinya? Enak sekali dia bicara? Memang dia berhak mengatur masa depanku? Hanya aku yang bisa memutuskan aku mau menikah dengan siapa. Bukan dia! Lagi pula, mengapa ia bisa begitu tega untuk menceraikan istrinya? Apa karena obsesinya untuk mempertahankanku?
“Cih! Siapa yang mau menikah dengan paman? Aku tidak akan pernah mau menikah dengan paman! Lebih baik paman cari saja wanita lain seperti kriteria yang paman sebutkan waktu itu. Cantik, muda, ceria, penuh semangat… dan apa lagi ya? Pokoknya jangan ganggu hidupku lagi!” sergahku kesal
“Erika, Erika. Kenapa mulutmu setajam ini sekarang? Mana semangatmu yang dulu begitu menggebu? Kau bawa kemana sikapmu yang biasanya ramah?”
“Semuanya sudah pergi bersamaan dengan sikap paman yang makin lama makin nekat! Lebih baik paman jangan meninggalkan istri paman demi mendapatkanku. Sampai kapan pun aku tidak akan mau lagi menjalin hubungan dengan paman,”
“Memangnya kenapa? Apa aku semenjijikkan itu di matamu?” ia melirikku penuh harap saat menanyakannya
“Pokoknya aku tidak mau! Aku tidak perlu menjelaskannya. Paman bukan siapa-siapaku. Aku hidup sendirian!”
“Apa… karena kau sudah punya kekasih?” Aha! Poin yang bagus. Sepertinya aku harus sedikit berbohong.
“Ya, aku sudah punya kekasih. Apakah alasan itu sudah cukup untuk paman sehingga bisa berhenti mencariku lagi? Gawat, aku sudah telat. Aku pergi dulu,” aku keluar dari mobil dan membanting pintu kuat-kuat.
Seusai keluar dan berjalan menuju kampus, aku terus berpikir. Siapa kekasihku? Bagaimana jika paman berusaha mencaritahu?
Mati aku.
*
Malam sudah begitu larut. Halte bus tempatku menunggu pun sudah sepi. Aku berusaha sabar menunggu bus yang akan kutumpangi segera tiba. Angin malam yang dingin bertiup kencang. Aku memeluk tubuhku sendiri.
Terdengar suara deru mesin mobil. Kupikir busnya udah sampai. Kuangkat kepalaku yang sebelumnya tertunduk. Ternyata yang muncul adalah mobil Toyota Yaris hitam. Mobil itu pun berhenti dan seseorang keluar.
Juno. Lagi-lagi Juno. Cobaan apalagi yang akan kudapatkan? Apakah ia akan memarahiku lagi? Apakah ia akan mencelaku lagi? Ya Tuhan. Semoga hal itu tidak terjadi. Hatiku yang terlalu mencintainya tidak sanggup menerima perlakuan seperti itu.
Dia pun berjalan ke arahku dengan ekspresi wajah yang begitu sendu. Aku yang tak tahu harus berbuat apa hanya bisa terdiam kaku. Dirinya pun duduk tepat di sebelahku. Aku membuang pandanganku ke bawah. Tak berani lagi menatapnya.
“Erika?” panggilnya lembut.
Kuangkat kepalaku lalu memalingkan wajahku ke sisinya. Dengan cepat dan mengejutkan, ia menyentuhkan bibirnya yang hangat pada bibirku. Aku begitu syok. Tapi tak berusaha menolak. Inilah yang kuinginkan. Ciuman ini yang kudambakan. Ciuman indah dari seseorang yang begitu kucintai. Seseorang yang selalu mengisi mimpiku.
Kuharap ini bukan mimpi. Jikalau ini memang mimpi pun, kuharap ketika terbangun aku tidak mendapati diriku sedang berciuman dengan paman. Kuharap ini tetap Juno. Selalu Juno. Selamanya Juno.
Terasa begitu singkat hingga ciuman kami usai. Dirinya memandangiku pilu. Seperti aku telah begitu menghancurkannya. Seperti aku begitu menyakitinya.
Dia pun tak mengizinkan aku berpikir dengan memelukku erat. Air mataku menetes. Semuanya terasa begitu pahit. Pelukan dan ciuman ini kudapatkan dalam suasana seperti ini. Segala perlakuan yang kuharapkan ini kudapatkan saat aku menjadi seorang simpanan. Saat dimana aku tidak pantas lagi mendapatkannya.
“Kenapa harus kamu, Erika? Kenapa? Aku nggak mengerti. Kenapa semuanya harus seperti ini?” desisnya lirih.
Ada apa ini? Ada apa dengan aku? Memangnya ada peristiwa apa?
Aku pun sama dengan Juno. Sama-sama tak mengerti.
_______________________________________________
Derai Air Mata
Kami masih saja terpaku dalam diam. Kala itu sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan halte tempatku dan Juno duduk. Sesosok pria yang berpakaian formal turun dari mobil.
Sosok itu adalah paman. Seorang yang telah berperan besar hingga membuat hidupku seperti ini. Seorang yang berhasil membuatku mengerti bagaimana suka-duka seorang wanita simpanan.
“Ini kekasihmu, Erika?” tanya paman dingin, memandangi Juno tak suka, “Hahahaha, ternyata kekasihmu adalah anakku yang pembangkang. Ironis sekali hidup ini…”
Apa?! Juno adalah anak dari seorang Rio Wijaya? Jika ini adalah kisah orang lain, pasti akan kutertawai habis-habisan. Sayangnya ini kisahku. Kisah rumitku yang bodoh dan konyol. Kini aku mengerti mengapa Juno tampak begitu terluka setelah ciuman kami usai. Aku juga mengerti apa yang Juno tanyakan tadi. Meski tetap tak bisa menjawab pertanyaannya.
Tadi dia bilang, Juno pembangkang? Memangnya kenapa?
Kulirik Juno sesaat. Wajahnya tampak tenang meski aura kesinisan terpancar jelas dari sepasang mata tajamnya. Dia menatap paman dengan penuh emosi. Sungguh aku bingung harus berkata dan berbuat apa.
Aku mengaku-ngaku sudah punya kekasih pada paman padahal tidak ada meskipun aku tulus memendam perasaan pada Juno sejak lama. Hebatnya lagi, kini aku baru sadar bahwa aku adalah seorang wanita simpanan dari ayah seseorang yang begitu kucintai. Rasanya begitu naïf jika membayangkan seseorang yang ibunya sudah begitu kusakiti bisa membalas perasaanku.
“Bukan, Juno bukan kekasihku. Sama sekali bukan,” dua kalimat yang begitu berat kuucapkan baru saja meluncur keluar
“Nggak, dia salah. Kami baru saja meresmikan hubungan kami tadi. Kami adalah sepasang kekasih yang saling mencintai,” ujar Juno tegas dan lantang seraya memandang keras paman. Andai saja aku tidak pernah menjadi simpanan paman. Aku pasti bisa berharap penuh pada ucapan Juno barusan.
Juno menyambar tanganku. Menggenggamnya kuat-kuat. Jantungku berdegup keras. Kuharap Juno akan menggenggam tanganku terus, tak pernah melepaskannya.
“Kalau begitu, kalian harus putus. Satu hal, Juno. Erika adalah wanitaku. Kau adalah anakku. Itulah status kalian. Kalian tidak akan pernah bisa bersatu selama aku masih hidup,” paman berkata begitu tenang dengan nada datar
“Memangnya kau siapa?! Menjadi suami dan ayah saja tak becus, masih bisa mengatur-ngatur hidup orang? Pokoknya Erika milikku. Aku mencintainya. Lebih daripada diriku sendiri. Kau pasti hanya terobsesi pada keceriaan dan jiwa muda seorang Erika saja!” emosi Juno mulai tampak dalam caranya berbicara.
Apakah benar yang barusan Juno katakan? Dia… mencintaiku? Aku hampir tak bisa percaya. Juno mencintaiku. Paman—yang ternyata adalah ayahnya—menginginkanku menjadi miliknya. Hidupku kini benar-benar kacau.
Kutatap wajah mereka berdua yang kini sedang bersitegang. Aku merasa berada dalam sebuah dilema yang begitu berat. Semua karena perbuatan dan kebodohanku yang mau saja dan pernah menjadi seorang wanita simpanan.
“Kau pikir kau bisa melawanku? Lihat saja nanti, Juno. Erika akan menjadi milikku. Cepat atau lambat,” kelihatannya obsesi paman makin menggila
“Kau benar-benar sudah membuang Mama dari hati terdalammu ya? Laki-laki tua tidak tahu diri,”
Nada dering ponsel seseorang berbunyi. Ponsel Juno. Dia mengeluarkannya dari saku celana dan kemudian mengangkat teleponnya.
“Halo,” sapanya. Juno mendengarkan pembicaraan di telepon dengan raut wajah yang begitu serius. “Oke, saya akan segera kesana.” Ekspresi Juno berubah kusut. Aku khawatir melihatnya.
Siapa yang menelepon? Mengapa Juno tampak begitu sedih?
“Kau akan menyesal,” ucap Juno sebelum menarikku pergi meninggalkan paman. Juno membawaku masuk ke dalam mobilnya. Aku merasa begitu patuh pada Juno. Kusadari setelah malam ini aku semakin mencintainya. Aku tak peduli ia membawaku kemana.
*
Aku menangis. Bukan hanya berlinangan air mata. Mungkin terdengar agak berlebihan, namun aku baru saja menangis sesunggukan sambil memeluk bingkai foto seseorang.
Seseorang yang tak pernah berbicara padaku sepatah kata pun. Seseorang yang pernah begitu tulus tersenyum padaku. Seseorang yang kini sangat kukagumi karena ketabahan dan kesabarannya menghadapi hidup.
Kini beliau telah tiada. Beliau telah memulai istirahat terpanjangnya. Beliau sudah menyelesaikan kehidupannya disini.
Selamat jalan, tante. Tante sudah berjuang begitu keras menghadapi kehidupan ini.
Kusentuh nisan yang bertuliskan “Themia Wijaya” dengan sedih. Aku adalah orang yang begitu kejam. Begitu tega menyakiti perasaan Tante Themia. Aku sudah bermain di belakangnya. Aku telah melukai perasaan terdalamnya, dengan menjadi simpanan paman.
“Juno, kau membenciku? Jika memang kau membenciku, aku rela. Aku sudah begitu menyakiti perasaan ibumu. Aku sudah merusak hubungan dalam keluargamu. Aku tak tahu apakah aku masih pantas disebut sebagai manusia atau bukan,” bisikku pelan, menatap Juno lekat-lekat.
Wajah Juno penuh air mata. Dia tampak begitu rapuh. Aku ingin sekali memeluknya, ingin sekali meredakan perasaan sedihnya. Tapi aku sadar aku tak pantas. Akulah penyebab semua ini. Aku yang menghancurkan keluarganya.
Juno langsung memelukku. Aku sudah terlalu sedih untuk terkejut. Terlalu banyak kejutan untukku akhir-akhir ini. Dengan perasaan bersalah menemui Tante Themia. Dia tetap tersenyum setelah mendengar pengakuanku. Meski berada dalam keadaan stroke, ia tetap berusaha keras untuk tersenyum padaku saat itu. Hatiku teriris melihatnya. Aku begitu membenci diriku. Juga paman. Kami berdua telah merusak semuanya.
“Erika, kau perlu tahu aku mencintaimu. Selalu mencintaimu. Tak peduli kau pernah menjadi simpanan ayahku dulu. Tak peduli dirimu siapa. Tak peduli kau begitu diinginkan ayahku,”
Suara langkah kaki semakin mendekat. Kami melepaskan pelukan. Kualihkan pandanganku. Paman berada di sana. Dia tampak begitu hancur pula. Wajahnya sama dengan Juno. Sangat terluka.
“Sekarang kau menyesal, pria tua? Sepertinya semua sudah terlambat! Kemana aja dua tahun ini? Pergi mencari korban wanita yang kesulitan untuk menemanimu?!” Juno berdiri, sulit menahan amarahnya. Dia sepertinya ingin menghampiri ayahnya. Kutahan dia, kugengam lengannya.
“Juno, jangan. Jangan bertengkar di depan makam Tante Themia,” ucapku lirih.
Juno terdiam di posisinya. Paman berdiri mematung. Keheningan menyelimuti kami. Kini semua terasa kacau. Air mataku kembali menetes terbawa suasana dingin. Suasana yang terasa menusuk hati dan jiwaku.
Juno. Almarhum Tante Themia. Paman. Ketiga sosok kunci dalam hidupku. Kami semua terbawa dalam arus hubungan yang kompleks. Tak mampu menahan derasnya badai yang meluluhlantahkan kami.
Simpanan. Satu kata berakibat besar. Satu status pembawa malapetaka. Satu jenis hubungan penghancur hidup. Sayangnya, aku pernah menjadi simpanan. Label simpanan akan selalu melekat pada kehidupanku. Sampai kapanpun. Sampai aku mati sekalipun. Bekasnya mungkin selalu terbawa pada diriku.
___________________________________________________
Senja Saat Perpisahan
Sudah dua bulan sejak pemakaman Tante Themia diadakan. Suasana hatiku perlahan-lahan membaik meski rasa penyesalan tak berhenti menderaku. Masih sulit rasanya memaafkan diriku sendiri setelah peristiwa meninggalnya Tante Themia setelah aku dan paman telah begitu menyakiti hatinya.
Sudah dua bulan pula Juno tak pernah menemuiku. Aku tak berani lagi berusaha menemuinya. Terlalu malu diriku untuk kembali muncul di hadapannya setelah semua yang aku lakukan begitu menyakiti dirinya dan keluarganya.
Mungkin saja ia marah padaku. Mungkin ia juga menyadari bahwa aku adalah wanita murahan perusak rumah tangga orang lain yang tidak pantas bersanding dengannya secinta apapun ia padaku. Apa mungkin juga ia kini sudah bertemu gadis lain yang lebih pantas dengannya?
Ah, perasaan hati yang sensitif membuatku berpikir negatif tentang Juno. Rasanya aku begitu tidak tahu diri jika masih bisa berbuat begitu setelah semua yang Juno lakukan padaku.
Sudah sepuluh menit aku duduk menunggu di salah satu sudut Starbucks Coffee di Skyline Building. Orang yang kutunggu adalah paman. Dia memintaku menemuinya untuk membicarakan sesuatu. Aku rasa apapun yang ingin dikatakannya nanti tidak akan terlalu mengejutkanku. Hidupku sudah terlalu banyak kejutan. Tentang aku yang menjadi seorang simpanan, Juno adalah anak paman, sampai Tante Themia yang akhirnya harus meninggal akibat stroke.
Paman pun muncul membawa satu cup venti kopi panasnya lalu duduk di hadapanku. Wajahnya tampak datar, tidak seperti biasanya yang selalu riang dan berjiwa muda ketika menemuiku.
"Siang, Erika." ucap paman setelah lima detik ia duduk
"Siang," balasku ringan
"Oke, aku datang kemari untuk berbicara padamu mengenai beberapa hal. Tentu saja tentang aku, kau, Themia, dan Juno."
"Ya, langsung mulai saja, paman..."
"Aku menikah dengan Themia sudah dua puluh delapan tahun. Kami begitu bahagia selama pernikahan kami. Kami juga bahagia memiliki Juno. Anak satu-satunya kami yang sangat kami sayangi. Semua itu berubah ketika aku melihat istriku sedang berpelukkan dengan seorang pria,” paman menghela nafas panjang sebelum melanjutkan, “Pria itu masih muda. Seusia Juno. Seusia anaknya sendiri! Aku baru tahu ada seorang wanita yang mau-maunya menjalani hubungan gelap dengan seorang pria yang bahkan umurnya sama dengan anaknya sendiri!” Paman tampak emosi, menahan amarah yang mulai tersulut oleh ucapannya sendiri.
Oh tidak. Tante Themia? Tante Themia berselingkuh lebih dulu? Tidak mungkin. Wanita yang tampaknya begitu keibuan, anggun, dan baik hati itu yang ternyata lebih dulu menyakiti paman? Tidak mungkin. Dia dengan tulusnya tersenyum saat aku mengaku bahwa aku berhubungan gelap dengan paman. Oh, bodoh sekali aku. Tentu saja dia tersenyum karena dia merasa tindakan paman berselingkuh denganku wajar setelah apa yang sudah Tante Themia lakukan.
“Juno tahu tentang ini?” ceplosku penasaran
“Tunggu dulu. Biarkan aku menyelesaikan ceritaku. Aku tidak langsung bertanya kepada Themia. Tapi aku mencoba mendiamkannya dulu. Dia tak pernah berkata jujur padaku. Kehidupan pernikahan kami juga semakin hambar. Akhirnya aku tak tahan lagi. Aku langsung mengajukan untuk bercerai. Kami berdua pun bertengkar hebat. Aku mengancam akan membunuh pria simpanannya itu. Themia pun langsung pingsan. Dia harus dilarikan ke Rumah Sakit. Keesokkan harinya, dokter memberitahukan kami bahwa dia terserang stroke berat. Sejak saat itu, Juno tak pernah mau berbicara denganku lagi.”
Astaga. Semuanya begitu rumit. Aku pikir tragedi ini dimulai ketika aku menjadi simpanan paman. Rupanya aku salah. Tragedi itu sudah dimulai bahkan sejak sebelum pertemuan paman denganku. Aku bahkan tidak menyangka Tante Themia yang terlebih dahulu menyakiti paman. Kesalahan yang lebih dulu dibuat mengakibatkan kesalahan-kesalahan baru lainnya yang juga harus menyeretku ikut terlibat di dalamnya.
Ternyata aku lahir sebagai seorang simpanan karena ada simpanan lain sebelumnya. Di dalam kehidupan paman dan tante. Apakah paman ingin balas dendam kepada tante yang lebih dulu menyakitinya?
"Selama Themia stroke, aku merasa kacau. Kacau karena semua kejadian yang menimpaku bertubi-tubi. Ditambah aku yakin Juno membenciku karena telah membuat mamanya menjadi seperti itu. Aku merasa gagal, baik sebagai suami maupun ayah. Aku berusaha untuk bertahan dalam kehidupanku yang seperti sudah tidak ada artinya lagi. Saat itulah aku menemukanmu. Dalam hujan, kau nampak begitu sedih. Wajahmu sangat melankolis. Aku rasa kita sama-sama hancur dan bisa saling mengisi. Aku tahu kau begitu muda. Namun jujur saja jiwa mudamu lah yang menjadi penyemangat hidupku. Aku begitu menikmati saat-saatku bersamamu. Bahkan bisa kukatakan, aku menginginkanmu," paman megatakan semuanya dengan nada berat.
Kini aku memahaminya. Kini aku mengerti mengapa paman menjadikanku seorang simpanan. Kini aku tahu aku pernah menjadi seorang simpanan karena apa. Kini aku tahu semua. Paman tidak serendah yang sebelumnya kupikir. Dia hanya seorang pria yang merasa dikhianati dan tidak diinginkan.
Tak ada asap jika tak ada api. Tak mungkin paman menginginkanku jika istrinya tidak mengkhianatinya. Semua kejadian ini sangat beralasan.
"Menjawab pertanyaanmu, aku rasa Juno tak perlu tahu. Biarkan saja ia membenciku. Aku sudah rela. Yang penting aku tetap menganggapnya sebagai anak yang kubanggakan. Kini aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku rela melepaskanmu, Erika. Demi satu-satunya sisa kebahagiaan Juno,"
Kedua kalimat terakhir paman membuatku tersentak. Ternyata dia tulus mencintai keluarganya. Siang ini, banyak sekali yang baru kuketahui tentang sosok paman. Dia bukan orang yang sesimpel itu. Dia pria yang berusaha bertahan dalam kehidupan pahit yang tidak berpihak padanya.
*
Pukul empat sore, Bandar Djakarta, Ancol. Juno belum datang. Terkejut aku karena kemarin ia bilang ingin menemuiku. Aku takut dia tak menghubungiku selama dua bulan karena dia sudah tak mau lagi melihatku.
Aku berdiri di dermaga kecil. Dermaga kecil yang menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal milik restoran ini yang dapat digunakan bagi pengunjung.
"Erika?" kudengar seseorang memanggilku.
Aku menolehkan kepalaku ke asal suara itu.
Juno. Masih begitu tampan seperti biasa. Kali ini ia tampak segar. Apalagi dengan senyumannya yang begitu hangat. Ya Tuhan, aku sudah begitu merindukannya. Benar-benar merindukannya. Ingin sekali kukatakan padanya bahwa aku tak sanggup berpisah lagi dengannya.
"Erika," panggilnya kembali, "Aku... Aku merindukanmu," katanya lirih
Ia merindukanku? Tapi mengapa setelah dua bulan ia baru mau menemuiku? Entah mengapa rasanya sulit mengatakan sesuatu pada Juno. Rasanya aku terlalu gugup.
"Aku akan kembali ke Pulau Jeju minggu depan," Apa?! Juno akan pergi lagi meninggalkan Jakarta, "Kurasa semua urusanku di sini sudah beres. Jadi buat apa lagi berlama-lama di sini?"
Tunggu. Juno tidak boleh pergi. Banyak yang belum ia ketahui. Dia harus tahu alasan utama mengapa semua peristiwa ini terjadi. Satu hal lagi, aku juga tidak mau ditinggalkannya.
"Juno, tunggu. Kamu sudah tahu semuanya? Tentang alasan pertikaian Papa dan Mamamu?" tanyaku
"Aku baru saja mengetahuinya kemarin. Kemarin aku mengunjungi Papa. Kupikir aku harus mengetahui segalanya dari dia. Maka aku bersikeras memaksanya bercerita padaku. Bagaimanapun aku anak dalam keluarganya. Aku harus mengetahuinya. Setelah itu, kupikir semua urusanku sudah beres," jelasnya datar
"Kamu sudah memaafkannya?"
Juno mengangguk. "Ya, aku sudah memaafkannya. Selama dua bulan ini aku mencoba berpikir banyak. Aku rasa situasi yang semakin menyulitkan kami. Aku tidak ingin lagi memperpanjang masalah ini. Semuanya sudah selesai."
"Bagus kalau begitu," ucapku. Sudah tak ada alasan lagi untuk menahan Juno agar ia tetap berada disini. Berarti ia memang harus pergi. Meninggalkanku. Melemparku dalam heningnya kesendirian.
"Hanya ada satu urusan yang rasanya belum selesai," ujarnya sambil menyeringai penuh misteri
"Apa?"
"Pernikahanku..," Apa?! Juno akan menikah?!!! "Dengan Erika, wanita yang paling kucintai," katanya sambil tersenyum. "Tapi sampai saat ini aku belum tahu apakah gadis itu mencintaiku atau tidak karena belum mendengar langsung dari bibirnya..."
Aku terpaku. Rasanya begitu terharu mendengar semua ucapan Juno barusan. Seperti segala impian dalam hidupku baru saja terwujud. Juno... melamarku! Sesuatu yang paling kuinginkan selama ini. Belum lagi ditambah ekspresinya yang begitu polos saat mengtakan dia belum yakin apa aku mencintainya atau tidak.
Tentu aku mencintainya. Tapi aku sedikit risih dengan masa laluku. Aku sudah begitu menyakiti keluarga Juno. Aku adalah seorang mantan simpanan. Apa aku bisa menjadi pasangan yang baik untuk Juno?
"Aku mencintaimu. Tapi sepertinya aku tidak bisa menikah denganmu. Kurasa aku bukan wanita yang tepat buatmu." kutundukkan kepalaku saat mengatakannya, tak berani menatap mata Juno.
"Siapa bilang? Aku yakin kita berdua akan menjadi pasangan yang cocok. Aku mencintaimu. Kamu pun mencintaiku. Apa lagi masalahnya? Apa yang membuat kita tidak cocok?"
"Statusku sebagai seorang mantan simpanan," tuturku pelan
"Erika. Kumohon jangan bahas masalah itu lagi. Semuanya adalah masa lalu. Kita harus membuka lembaran baru kehidupan kita. Bersama kita akan menjalani kehidupan baru sebagai pasangan yang bahagia. Hanya kamu dan aku. Juno dan Erika. Tidak ada orang lain," Juno mengeluarkan dua lembaran kertas dari kantongnya, "Ini tiket pesawat kita ke Korea. Kita akan menikah disana. Sekarang ini saatnya kamu menjawab, maukah kamu menikah denganku?"
"Ya, aku mau." jawabku akhirnya. Kurasa sudah saatnya aku memikirkan kebahagiaanku. Kebahagiaan Juno juga. Jangan hanya memikirkan masa lalu. Masa lalu tidak memerlukan kebahagiaan. Kini aku dan Juno yang begitu memerlukannya.
Juno menyunggingkan senyum paling lebarnya selama ini. Dia langsung menarikku ke dalam pelukkannya. Membiarkanku merasakan kehangatannya. Puas berpelukkan, Juno melepaskanku. Namun ia tak membiarkanku jauh dari jangkauannya. Ia menatap wajahku begitu lekat. Menghilangkan jarak di antara wajah kami. Dengan perlahan, ia menyapukan bibirnya yang lembut pada bibirku. Aku terhanyut dalam ciuman kami. Ciuman panjang yang begitu memabukkan.
Senja ini menjadi saksi kisah kami. Kisah cinta kami yang baru saja akan dimulai. Senja ini turut menjadi saksi bahwa aku dan Juno sudah resmi berpisah dengan semua masalah yang pernah mengganggu hidup kami. masa lalu memang tak pernah bisa lepas dari hidup seseorang. Tapi aku dan Juno akan berusaha sekuat tenaga untuk masa depan kami yang bahagia.
Mulai saat ini, aku berpisah secara resmi dengan status simpanan. Tidak ada lagi masalah simpanan dalam hidupku.
"Juno, sebosan mungkin kamu pada diriku nanti, kuharap kamu tidak mencari wanita simpanan untuk menemanimu," bisikku pelan di telinganya. Kami berdua tertawa terbahak-bahak.
"Tidak akan pernah. Sampai kapanpun aku hanya mencintaimu,"
Selesai
21.07
Jumat, 27 November 2009
Calvin
PS: Thanks buat semua pembaca yang setia ngikutin serial "Simpanan" dari episode satu.
"Romansa Hitam" bakal gw buat jadi novel. Jadi bakal terbit secara berkala per chapter.
Ditunggu yah. Tetap setia sama cerita2 gw. =)
Andai saja dosa manusia seperti noda pakaian yang bisa dicuci bersih tanpa bekas, segalanya pasti baik-baik saja. Aku pasti tidak akan seperti sekarang. Mendekam dalam rasa bersalah yang begitu menyiksa.
Tuhan memang adil. Segala perbuatan manusia pasti akan meninggalkan bekas. Terlalu naïf rasanya jika seseorang berpikir ia tidak akan menghasilkan apapun dari perbuatannya.
Aku Erika. Berusia 22 tahun. Aku wanita muda yang dengan bodoh mau saja menjadi tempat persinggahan seorang lelaki yang ingin mendapatkan kenikmatan rasa baru. Rasa nikmat yang diberikan wanita lain selain istrinya.
Pria itu hanya merasa tertekan dengan pekerjaannya yang berat. Ia bukannya tidak puas dengan sang istri. Ia ingin mencari sebuah hiburan yang segar namun tidak murahan. Yang benar saja, ia menginginkan perempuan yang dianggapnya baik-baik untuk disinggahinya di luar rumah. Dan menurutnya, aku termasuk dalam kategori perempuan baik-baik.
Aku memang bukan pekerja seks komersil—kategori inilah yang menurutnya bukan perempuan baik-baik. Aku adalah putri semata wayang dari keluarga sederhana yang terpelajar. Bisa dikatakan aku tidak beruntung. Kedua orangtuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Mereka tidak meninggalkan apa-apa. Aku tidak punya keluarga lagi selain mereka. Sejak menikah, kedua orangtuaku tidak diakui lagi keberadaannya oleh para kerabat mereka. Rupanya pernikahan mereka tidak direstui.
Mengetahuinya, aku jadi berpikir usil. Apakah ini akibat dari sebuah pernikahan tanpa restu? Hingga membuat seorang anak akhirnya menderita dan tidak bisa meraih impiannya.
Apa impianku? Sederhana, aku hanya ingin sukses menjadi seorang pengacara. Namun, karena sebuah alasan klise—apalagi kalau bukan finansial, aku harus putus kuliah.
Aku sempat menertawai nasibku sendiri. Kasihan sekali kau, Erika. Uang tidak punya. Pendidikan hanya sampai SMA. Tentu kau tahu kan Erika, dengan ijazah SMAmu, kau bisa bekerja sebagai apa? Paling-paling hanya pelayan restoran, kasir supermarket, atau apapun yang tidak lebih baik dari itu kecuali jika nasib baik berpihak padamu.
Selanjutnya, semua berubah. Setelah hari ketika aku bertemu dengannya. Dengan seseorang yang selama ini kupanggil dengan sebutan Paman. Namanya Rio Wijaya. Ia seorang pebisnis handal yang mengendalikan sebuah perusahaan terkemuka. Kami bertemu ketika aku sedang meminta pekerjaan pada temanku di sebuah restoran yang menyajikan makanan khas Korea.
Siang itu hujan turun dengan derasnya. Aku tidak bisa pulang dan harus berteduh di depan restoran sampai hujan mereda. Namun hujan tidak kunjung berhenti. Ketika itu, sebuah mobil hitam mewah baru saja diparkir tepat di hadapanku. Pintu dibuka dan keluarlah seorang pria berpenampilan rapi ala kantor. Seorang pegawai restoran terburu-buru memayunginya. Sebelum melewatiku, ia menatapku tajam. Benar-benar tajam. Aku menundukkan kepalaku. Menghindari tatapannya. Dia mendekatiku, aku mulai merasa ngeri. Dia menanyakan namaku. Aku menjawabnya takut-takut.
Dia memberikan perhatian lebih. Dengan kelembutannya, ia meluluhkan hatiku yang sedang galau. Hatiku yang terasa kacau dengan semua kemalangan yang terjadi beruntun. Orangtua meninggal sekaligus keduanya. Tidak punya cukup uang. Harus putus kuliah. Apakah hatimu tidak tersentuh ketika datang seorang pria—yang sayangnya tak terlalu muda lagi— yang begitu pedulinya pada dirimu ketika kau butuh pertolongan? Aku setuju ditraktirnya makan bahkan diantar pulang.
Waktu berlalu begitu cepat, aku semakin sering bertemu dia. Dia bersedia membiayai kuliahku—dengan alasan yang agak aneh, yaitu menambah calon-calon penerus bangsa terbaik. Aku begitu senang. Begitu naïf tidak mengetahui apa motif di balik bantuannya yang tampak begitu ikhlas. Aku bahkan berkata akan mengganti semuanya ketika bekerja nanti. Tentu saja ia menolak. Ia tidak menginginkan uangku.
Ia hanya menginginkan diriku. Semua tampak jelas ketika ia mencium bibirku. Semua begitu mengejutkan. Aku begitu syok sampai menangis semalaman di kamar. Bibirku yang tak pernah dicium oleh pria mana pun harus direlakan oleh seorang pria tua. Pria yang akhirnya kuketahui sebagai pria yang sudah beristri.
Setelahnya, aku pun jadi tahu apa statusku. Simpanan. Seorang wanita simpanan yang sebelumnya bahkan tak tahu dirinya adalah simpanan. Wanita bodoh perusak hubungan rumah tangga orang lain.
________________________________________________
Pusaran Emosi
“Dihabisin dong makanannya, Erika. Paman paling suka melihatmu makan dengan lahap,”
Mungkin ketika pertama kali mendengar kata-kata ini dari paman, aku bisa bergidik geli. Tapi ini sudah lebih dari satu tahun hubungan tidak sehat ini berjalan. Tentu aku sudah terbiasa merasakan perhatian yang tidak kuinginkan ini.
“Aku nggak nafsu makan,” kataku sambil memotong-motong daging ikan dengan malas. Sulit sekali memisahkan daging swordfish ini dari tulangnya. Pasti memasaknya jauh lebih mudah dari memakannya, Aku memang tidak nafsu makan. Selama satu tahun ini, aku memang jarang pernah punya nafsu makan. Aku selalu hanyut dalam perasaan tidak tenangku. Aku memang menyesali keputusanku menerima bantuan paman untuk kuliah. Tapi kupikir rasa penyesalanku tidak perlu dibiarkan berlarut-larut. Yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana aku kali ini harus tegas untuk mengakhiri segalanya yang sedang terjadi antara aku dan paman.
“Kenapa nggak nafsu makan? Apa perlu disuapin?” tanyanya sambil tersenyum. Nafsu makanku malah semakin drop mendengarnya. Sudah berkali-kali aku berkata padanya bahwa aku tidak ingin bertemu dan berhubungan lagi dengannya. Tapi, ketika aku mengatakan itu, sikapnya malah berubah jauh lebih lembut dan tulus. Dia terus meyakinkanku bahwa dia memerlukanku. Dan bahwa aku membutuhkan bantuannya. Biasanya, aku hanya bisa pasrah mendengarnya. Diam tak berkutik. Lagipula jika aku berusaha menghindar, ia selalu berhasil menemukanku dan memaksaku. Memusingkan sekali rasanya.
“Aku rasa ini adalah pertemuan terakhir kita. Aku baru saja dapat pekerjaan lumayan di sebuah perusahaan komputer. Biaya kuliah akan kuganti setelah lulus nanti,” ucapku tenang, datar, tanpa berusaha memandangnya sedikitpun.
“Berusaha memutuskan hubungan lagi?” tanyanya santai. Huh, mungkin ia berpikir kali ini aku akan dengan mudah luluh lagi untuk meneruskan hubungan kucing-kucingan ini.
“Bukan berusaha. Tapi memang memutuskan untuk putus. Nggak ada tawar-menawar apapun. Terserah paman mau nerima uang gantiku atau tidak, tapi aku tetap akan membayar. Selamat siang,” aku cepat-cepat berdiri, mengambil tas tanganku lalu segera meninggalkan meja lalu keluar dari restoran itu.
Paman mengejarku. Aku tetap berjalan. Terus menambah kecepatan langkahku. Tapi ia berlari kencang. Dengan amarah membara, ia menarik tanganku.
“Lepaskan tanganku!” aku membentak keras. Ikut terbawa emosi. Dia tidak punya hak apapun atas diriku. Aku tak harus bersamanya terus. Bentakkanku tidak membuat cengkramannya pada lenganku mengendur.
“Nggak. Sebelum kamu menarik kata-katamu. Kamu nggak bisa seenaknya memutuskan hubungan kita. Hanya aku yang bisa memutuskan hubungan kita,” ujarnya tajam.
“Kenapa begitu? Paman pikir jika paman udah membiayai kuliahku selama ini maka paman berhak atas diriku?” kutarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Enak aja. Jangan mentang-mentang aku nggak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi, paman jadi semena-mena. Aku nggak mau menjalani hubungan seperti ini. Aku muak!”
“Aku nggak bisa melepasmu karena aku nyaman bersamamu. Aku menemukan sebuah perasaan baru ketika aku bertemu denganmu. Kau begitu ceria, penuh semangat, muda, dan segar. Aku menikmati saat-saat kita berdua,” akhirnya ia melepaskan tanganku
“Aku nggak peduli. Itu adalah urusan paman. Aku harus melanjutkan masa depanku. Paman harus melanjutkan hubungan paman dengan istri paman. Bukan denganku,” aku kembali berjalan, tapi paman kembali dengan kasarnya menarikku masuk ke mobilnya.
Wajahnya merah. Tampak ia sedang menahan amarah yang begitu besar. Dia mencium bibirku dengan paksa. Aku begitu terkejut. Apalagi ketika lidahnya masuk menyusuri lidahku. Kugigit lidahnya kuat-kuat. Dia melepaskan ciumannya. Kesakitan. Lidahnya berdarah. Kutampar wajahnya.
“Paman keterlaluan. Jangan seenaknya memperlakukanku begitu,” aku berkata dingin
Sambil menahan marah, aku pun keluar dan membanting pintu mobil dengan keras.
*
Aku hampir saja sampai di rumah kosku. Dari kejauhan, kulihat sosok seorang pria muda berdiri seperti sedang menunggu seorang. Aku terus mendekat, tidak peduli. Aku sudah terlalu pusing memikirkan apa yang baru saja terjadi padaku. Aku merasa jijik dengan bibirku hingga tanpa sadar menyapunya kasar dengan punggung tanganku.
“Akhirnya kamu datang juga, Erika. Rasanya begitu lama menunggumu,” pria itu tersenyum lebar padaku.
“Juno?” ucapku refleks, terkejut menanggapi keberadaannya di rumahku. Sedikit perasaan senang menghinggapiku setelah memandangnya. Rasanya sudah begitu lama. Sudah setahun aku tak bertemu dengannya. Juga sudah selama itu aku memendam rasa rinduku yang begitu besar.
“Kupikir kamu sudah terlalu sibuk dengan lelaki tua itu hingga melupakan namaku. Rupanya masih ingat juga padaku?” ucapan dinginnya terasa seperti petir yang menggelegar di telingaku.
Kakiku melangkah mundur. Tubuhku terpaku. Begitu syok mendengar ucapannya yang setajam pisau. Jika bukan Juno yang mengatakannya, rasanya tak mungkin sesakit ini. Juno mengetahuinya. Juno yang pergi ke Pulau Jeju untuk urusan bisnis resortnya tahu bahwa aku adalah seorang simpanan. Juno lelaki seumur hidupku.
“Mau mengelak, Erika?” lanjutnya dengan nada tajam, “Masih mau bilang kalau kamu nggak pernah berhubungan dengan suami orang?!” hatiku perih mendengarnya. Mataku mulai terasa panas, sepertinya berkaca-kaca.
“Juno, aku nggak mengelak. Aku memang berhubungan sama dia,” aku berusaha tegar mengatakannya. Wajahnya berubah sinis.
“Kenapa kamu ngelakuin ini, Erika? Kenapa kamu nggak hidup dengan lebih baik?” ujarnya gemas
“Kamu nggak ngerti. Kamu nggak akan pernah mengerti,” air mataku sudah mengalir cepat. Aku tidak boleh cengeng. Tidak boleh.
“Ya, kamu emang susah dimengerti. Sampai-sampai mau berhubungan sama dia,” Juno beranjak pergi. Aku tak menghalanginya. Hatiku terasa begitu sakit.
Juno tak akan pernah mencintaiku. Harapanku sudah pupus. Kami tak akan pernah mungkin bersama lagi setelah kejadian ini. Ia pasti menganggapku perempuan murahan yang begitu menjijikan. Ia pasti sudah muak padaku. Bahkan tak mungkin lagi menjadi sahabatku seperti dulu. Rasanya harapanku bahwa suatu hari Juno akan mencintaiku harus dibuang mulai saat ini.
Semua karena satu hal. Karena aku menjadi wanita simpanan suami orang. Perbuatan paling picik yang pernah seorang wanita lakukan. Bahkan mungkin seorang pekerja seks komersil pun masih lebih baik dariku. Ia tidak merusak rumah tangga orang lain. Tapi aku pasti telah merusaknya.
Tangisku tetap berlanjut. Kini aku sadar bahwa hidupku telah hancur. Cinta pertamaku, bahkan aku berani mengatakannya sebagai cinta seumur hidupku sudah membenciku, menganggapku wanita hina.
Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku setelah hari penuh emosi ini? Jejakku sebagai wanita simpanan tak akan pernah terhapus dari hidupku.
Kini aku tak punya siapa-siapa lagi dalam hidupku. Bahkan seorang sahabat terbaik yang begitu kucintai.
Selamat hidup sendirian, Erika.
____________________________________________
Perceraian
Hari ini terasa melelahkan—dan tentu saja menyebalkan. Padahal aku sudah berusaha memfokuskan diri untuk bekerja. Benar-benar serius bekerja. Tapi pikiranku terus berputar-putar pada Juno, paman, dan istri paman. Mengapa semua harus serumit ini? Akibatnya, aku beberapa kali membuat kekeliruan dalam menyelesaikan analisa laporan keuangan perusahaan. Hasil analisaku dikatakan tidak valid dengan angka-angka yang tertera pada laporan itu.
Aku ditegur oleh sang manager—yang untungnya masih saja mau memaklumiku karena aku baru bergabung di perusahaan ini.
Tadi pagi sebelum bekerja, aku mengirimkan sebuah email kepada Juno. Kujelaskan semua apa yang kurasa perlu ia ketahui. Kutumpahkan segala perasaanku selama menjalani kehidupanku yang makin runyam akhir-akhir ini. Jujur saja aku berharap ia akan mengerti keadaanku yang sulit. Sehingga harus melakukan ini semua.
Kini aku sedang menuju gedung kampusku. Kebetulan aku mengambil kelas malam pada semester enam ini. Hampir saja aku masuk menuju gedung kampus, jika saja tidak ada sosok yang begitu kuat menarikku. Dan bahkan lebih parahnya lagi, ia lalu membopongku. Begitu terkejutnya aku ketika melihat wajahnya. Ternyata paman. Aku langsung meronta-ronta, berusaha melepaskan diri.
“Apa-apaan? Lepas! Lepaskan aku!” bentakku kesal, terlalu marah mengetahui apa yang diperbuat paman ini bisa merusak reputasiku di kampus ini
“Ternyata kamu gadis yang bodoh, Erika. Dengan berteriak-teriak seperti itu, pasti bertambah banyak orang yang melihat kita. Aku sih tidak peduli. Tapi tentu kamu peduli kan dengan nama baikmu di sini?” ucapnya tenang. Dan sayang kata-katanya benar.
Aku diam, merenggut sebal dan merasa jijik pada perlakuan tidak pantas yang kuterima. Seperti biasa, dia membawaku masuk ke mobilnya.
“Mau ngomong apa? Aku tidak punya banyak waktu. Ada mata kuliah penting yang harus kuikuti,” ujarku sinis
“Aku mau memberitahu kamu kalau sebentar lagi hubungan kita tidak akan menjadi suatu hubungan yang tersembunyi. Karena besok adalah sidang perceraian pertamaku dengan istriku. Kamu bisa lihat hasilnya. Cepat atau lambat kamu akan jadi istriku,”
Apa? Aku akan jadi istrinya? Enak sekali dia bicara? Memang dia berhak mengatur masa depanku? Hanya aku yang bisa memutuskan aku mau menikah dengan siapa. Bukan dia! Lagi pula, mengapa ia bisa begitu tega untuk menceraikan istrinya? Apa karena obsesinya untuk mempertahankanku?
“Cih! Siapa yang mau menikah dengan paman? Aku tidak akan pernah mau menikah dengan paman! Lebih baik paman cari saja wanita lain seperti kriteria yang paman sebutkan waktu itu. Cantik, muda, ceria, penuh semangat… dan apa lagi ya? Pokoknya jangan ganggu hidupku lagi!” sergahku kesal
“Erika, Erika. Kenapa mulutmu setajam ini sekarang? Mana semangatmu yang dulu begitu menggebu? Kau bawa kemana sikapmu yang biasanya ramah?”
“Semuanya sudah pergi bersamaan dengan sikap paman yang makin lama makin nekat! Lebih baik paman jangan meninggalkan istri paman demi mendapatkanku. Sampai kapan pun aku tidak akan mau lagi menjalin hubungan dengan paman,”
“Memangnya kenapa? Apa aku semenjijikkan itu di matamu?” ia melirikku penuh harap saat menanyakannya
“Pokoknya aku tidak mau! Aku tidak perlu menjelaskannya. Paman bukan siapa-siapaku. Aku hidup sendirian!”
“Apa… karena kau sudah punya kekasih?” Aha! Poin yang bagus. Sepertinya aku harus sedikit berbohong.
“Ya, aku sudah punya kekasih. Apakah alasan itu sudah cukup untuk paman sehingga bisa berhenti mencariku lagi? Gawat, aku sudah telat. Aku pergi dulu,” aku keluar dari mobil dan membanting pintu kuat-kuat.
Seusai keluar dan berjalan menuju kampus, aku terus berpikir. Siapa kekasihku? Bagaimana jika paman berusaha mencaritahu?
Mati aku.
*
Malam sudah begitu larut. Halte bus tempatku menunggu pun sudah sepi. Aku berusaha sabar menunggu bus yang akan kutumpangi segera tiba. Angin malam yang dingin bertiup kencang. Aku memeluk tubuhku sendiri.
Terdengar suara deru mesin mobil. Kupikir busnya udah sampai. Kuangkat kepalaku yang sebelumnya tertunduk. Ternyata yang muncul adalah mobil Toyota Yaris hitam. Mobil itu pun berhenti dan seseorang keluar.
Juno. Lagi-lagi Juno. Cobaan apalagi yang akan kudapatkan? Apakah ia akan memarahiku lagi? Apakah ia akan mencelaku lagi? Ya Tuhan. Semoga hal itu tidak terjadi. Hatiku yang terlalu mencintainya tidak sanggup menerima perlakuan seperti itu.
Dia pun berjalan ke arahku dengan ekspresi wajah yang begitu sendu. Aku yang tak tahu harus berbuat apa hanya bisa terdiam kaku. Dirinya pun duduk tepat di sebelahku. Aku membuang pandanganku ke bawah. Tak berani lagi menatapnya.
“Erika?” panggilnya lembut.
Kuangkat kepalaku lalu memalingkan wajahku ke sisinya. Dengan cepat dan mengejutkan, ia menyentuhkan bibirnya yang hangat pada bibirku. Aku begitu syok. Tapi tak berusaha menolak. Inilah yang kuinginkan. Ciuman ini yang kudambakan. Ciuman indah dari seseorang yang begitu kucintai. Seseorang yang selalu mengisi mimpiku.
Kuharap ini bukan mimpi. Jikalau ini memang mimpi pun, kuharap ketika terbangun aku tidak mendapati diriku sedang berciuman dengan paman. Kuharap ini tetap Juno. Selalu Juno. Selamanya Juno.
Terasa begitu singkat hingga ciuman kami usai. Dirinya memandangiku pilu. Seperti aku telah begitu menghancurkannya. Seperti aku begitu menyakitinya.
Dia pun tak mengizinkan aku berpikir dengan memelukku erat. Air mataku menetes. Semuanya terasa begitu pahit. Pelukan dan ciuman ini kudapatkan dalam suasana seperti ini. Segala perlakuan yang kuharapkan ini kudapatkan saat aku menjadi seorang simpanan. Saat dimana aku tidak pantas lagi mendapatkannya.
“Kenapa harus kamu, Erika? Kenapa? Aku nggak mengerti. Kenapa semuanya harus seperti ini?” desisnya lirih.
Ada apa ini? Ada apa dengan aku? Memangnya ada peristiwa apa?
Aku pun sama dengan Juno. Sama-sama tak mengerti.
_______________________________________________
Derai Air Mata
Kami masih saja terpaku dalam diam. Kala itu sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan halte tempatku dan Juno duduk. Sesosok pria yang berpakaian formal turun dari mobil.
Sosok itu adalah paman. Seorang yang telah berperan besar hingga membuat hidupku seperti ini. Seorang yang berhasil membuatku mengerti bagaimana suka-duka seorang wanita simpanan.
“Ini kekasihmu, Erika?” tanya paman dingin, memandangi Juno tak suka, “Hahahaha, ternyata kekasihmu adalah anakku yang pembangkang. Ironis sekali hidup ini…”
Apa?! Juno adalah anak dari seorang Rio Wijaya? Jika ini adalah kisah orang lain, pasti akan kutertawai habis-habisan. Sayangnya ini kisahku. Kisah rumitku yang bodoh dan konyol. Kini aku mengerti mengapa Juno tampak begitu terluka setelah ciuman kami usai. Aku juga mengerti apa yang Juno tanyakan tadi. Meski tetap tak bisa menjawab pertanyaannya.
Tadi dia bilang, Juno pembangkang? Memangnya kenapa?
Kulirik Juno sesaat. Wajahnya tampak tenang meski aura kesinisan terpancar jelas dari sepasang mata tajamnya. Dia menatap paman dengan penuh emosi. Sungguh aku bingung harus berkata dan berbuat apa.
Aku mengaku-ngaku sudah punya kekasih pada paman padahal tidak ada meskipun aku tulus memendam perasaan pada Juno sejak lama. Hebatnya lagi, kini aku baru sadar bahwa aku adalah seorang wanita simpanan dari ayah seseorang yang begitu kucintai. Rasanya begitu naïf jika membayangkan seseorang yang ibunya sudah begitu kusakiti bisa membalas perasaanku.
“Bukan, Juno bukan kekasihku. Sama sekali bukan,” dua kalimat yang begitu berat kuucapkan baru saja meluncur keluar
“Nggak, dia salah. Kami baru saja meresmikan hubungan kami tadi. Kami adalah sepasang kekasih yang saling mencintai,” ujar Juno tegas dan lantang seraya memandang keras paman. Andai saja aku tidak pernah menjadi simpanan paman. Aku pasti bisa berharap penuh pada ucapan Juno barusan.
Juno menyambar tanganku. Menggenggamnya kuat-kuat. Jantungku berdegup keras. Kuharap Juno akan menggenggam tanganku terus, tak pernah melepaskannya.
“Kalau begitu, kalian harus putus. Satu hal, Juno. Erika adalah wanitaku. Kau adalah anakku. Itulah status kalian. Kalian tidak akan pernah bisa bersatu selama aku masih hidup,” paman berkata begitu tenang dengan nada datar
“Memangnya kau siapa?! Menjadi suami dan ayah saja tak becus, masih bisa mengatur-ngatur hidup orang? Pokoknya Erika milikku. Aku mencintainya. Lebih daripada diriku sendiri. Kau pasti hanya terobsesi pada keceriaan dan jiwa muda seorang Erika saja!” emosi Juno mulai tampak dalam caranya berbicara.
Apakah benar yang barusan Juno katakan? Dia… mencintaiku? Aku hampir tak bisa percaya. Juno mencintaiku. Paman—yang ternyata adalah ayahnya—menginginkanku menjadi miliknya. Hidupku kini benar-benar kacau.
Kutatap wajah mereka berdua yang kini sedang bersitegang. Aku merasa berada dalam sebuah dilema yang begitu berat. Semua karena perbuatan dan kebodohanku yang mau saja dan pernah menjadi seorang wanita simpanan.
“Kau pikir kau bisa melawanku? Lihat saja nanti, Juno. Erika akan menjadi milikku. Cepat atau lambat,” kelihatannya obsesi paman makin menggila
“Kau benar-benar sudah membuang Mama dari hati terdalammu ya? Laki-laki tua tidak tahu diri,”
Nada dering ponsel seseorang berbunyi. Ponsel Juno. Dia mengeluarkannya dari saku celana dan kemudian mengangkat teleponnya.
“Halo,” sapanya. Juno mendengarkan pembicaraan di telepon dengan raut wajah yang begitu serius. “Oke, saya akan segera kesana.” Ekspresi Juno berubah kusut. Aku khawatir melihatnya.
Siapa yang menelepon? Mengapa Juno tampak begitu sedih?
“Kau akan menyesal,” ucap Juno sebelum menarikku pergi meninggalkan paman. Juno membawaku masuk ke dalam mobilnya. Aku merasa begitu patuh pada Juno. Kusadari setelah malam ini aku semakin mencintainya. Aku tak peduli ia membawaku kemana.
*
Aku menangis. Bukan hanya berlinangan air mata. Mungkin terdengar agak berlebihan, namun aku baru saja menangis sesunggukan sambil memeluk bingkai foto seseorang.
Seseorang yang tak pernah berbicara padaku sepatah kata pun. Seseorang yang pernah begitu tulus tersenyum padaku. Seseorang yang kini sangat kukagumi karena ketabahan dan kesabarannya menghadapi hidup.
Kini beliau telah tiada. Beliau telah memulai istirahat terpanjangnya. Beliau sudah menyelesaikan kehidupannya disini.
Selamat jalan, tante. Tante sudah berjuang begitu keras menghadapi kehidupan ini.
Kusentuh nisan yang bertuliskan “Themia Wijaya” dengan sedih. Aku adalah orang yang begitu kejam. Begitu tega menyakiti perasaan Tante Themia. Aku sudah bermain di belakangnya. Aku telah melukai perasaan terdalamnya, dengan menjadi simpanan paman.
“Juno, kau membenciku? Jika memang kau membenciku, aku rela. Aku sudah begitu menyakiti perasaan ibumu. Aku sudah merusak hubungan dalam keluargamu. Aku tak tahu apakah aku masih pantas disebut sebagai manusia atau bukan,” bisikku pelan, menatap Juno lekat-lekat.
Wajah Juno penuh air mata. Dia tampak begitu rapuh. Aku ingin sekali memeluknya, ingin sekali meredakan perasaan sedihnya. Tapi aku sadar aku tak pantas. Akulah penyebab semua ini. Aku yang menghancurkan keluarganya.
Juno langsung memelukku. Aku sudah terlalu sedih untuk terkejut. Terlalu banyak kejutan untukku akhir-akhir ini. Dengan perasaan bersalah menemui Tante Themia. Dia tetap tersenyum setelah mendengar pengakuanku. Meski berada dalam keadaan stroke, ia tetap berusaha keras untuk tersenyum padaku saat itu. Hatiku teriris melihatnya. Aku begitu membenci diriku. Juga paman. Kami berdua telah merusak semuanya.
“Erika, kau perlu tahu aku mencintaimu. Selalu mencintaimu. Tak peduli kau pernah menjadi simpanan ayahku dulu. Tak peduli dirimu siapa. Tak peduli kau begitu diinginkan ayahku,”
Suara langkah kaki semakin mendekat. Kami melepaskan pelukan. Kualihkan pandanganku. Paman berada di sana. Dia tampak begitu hancur pula. Wajahnya sama dengan Juno. Sangat terluka.
“Sekarang kau menyesal, pria tua? Sepertinya semua sudah terlambat! Kemana aja dua tahun ini? Pergi mencari korban wanita yang kesulitan untuk menemanimu?!” Juno berdiri, sulit menahan amarahnya. Dia sepertinya ingin menghampiri ayahnya. Kutahan dia, kugengam lengannya.
“Juno, jangan. Jangan bertengkar di depan makam Tante Themia,” ucapku lirih.
Juno terdiam di posisinya. Paman berdiri mematung. Keheningan menyelimuti kami. Kini semua terasa kacau. Air mataku kembali menetes terbawa suasana dingin. Suasana yang terasa menusuk hati dan jiwaku.
Juno. Almarhum Tante Themia. Paman. Ketiga sosok kunci dalam hidupku. Kami semua terbawa dalam arus hubungan yang kompleks. Tak mampu menahan derasnya badai yang meluluhlantahkan kami.
Simpanan. Satu kata berakibat besar. Satu status pembawa malapetaka. Satu jenis hubungan penghancur hidup. Sayangnya, aku pernah menjadi simpanan. Label simpanan akan selalu melekat pada kehidupanku. Sampai kapanpun. Sampai aku mati sekalipun. Bekasnya mungkin selalu terbawa pada diriku.
___________________________________________________
Senja Saat Perpisahan
Sudah dua bulan sejak pemakaman Tante Themia diadakan. Suasana hatiku perlahan-lahan membaik meski rasa penyesalan tak berhenti menderaku. Masih sulit rasanya memaafkan diriku sendiri setelah peristiwa meninggalnya Tante Themia setelah aku dan paman telah begitu menyakiti hatinya.
Sudah dua bulan pula Juno tak pernah menemuiku. Aku tak berani lagi berusaha menemuinya. Terlalu malu diriku untuk kembali muncul di hadapannya setelah semua yang aku lakukan begitu menyakiti dirinya dan keluarganya.
Mungkin saja ia marah padaku. Mungkin ia juga menyadari bahwa aku adalah wanita murahan perusak rumah tangga orang lain yang tidak pantas bersanding dengannya secinta apapun ia padaku. Apa mungkin juga ia kini sudah bertemu gadis lain yang lebih pantas dengannya?
Ah, perasaan hati yang sensitif membuatku berpikir negatif tentang Juno. Rasanya aku begitu tidak tahu diri jika masih bisa berbuat begitu setelah semua yang Juno lakukan padaku.
Sudah sepuluh menit aku duduk menunggu di salah satu sudut Starbucks Coffee di Skyline Building. Orang yang kutunggu adalah paman. Dia memintaku menemuinya untuk membicarakan sesuatu. Aku rasa apapun yang ingin dikatakannya nanti tidak akan terlalu mengejutkanku. Hidupku sudah terlalu banyak kejutan. Tentang aku yang menjadi seorang simpanan, Juno adalah anak paman, sampai Tante Themia yang akhirnya harus meninggal akibat stroke.
Paman pun muncul membawa satu cup venti kopi panasnya lalu duduk di hadapanku. Wajahnya tampak datar, tidak seperti biasanya yang selalu riang dan berjiwa muda ketika menemuiku.
"Siang, Erika." ucap paman setelah lima detik ia duduk
"Siang," balasku ringan
"Oke, aku datang kemari untuk berbicara padamu mengenai beberapa hal. Tentu saja tentang aku, kau, Themia, dan Juno."
"Ya, langsung mulai saja, paman..."
"Aku menikah dengan Themia sudah dua puluh delapan tahun. Kami begitu bahagia selama pernikahan kami. Kami juga bahagia memiliki Juno. Anak satu-satunya kami yang sangat kami sayangi. Semua itu berubah ketika aku melihat istriku sedang berpelukkan dengan seorang pria,” paman menghela nafas panjang sebelum melanjutkan, “Pria itu masih muda. Seusia Juno. Seusia anaknya sendiri! Aku baru tahu ada seorang wanita yang mau-maunya menjalani hubungan gelap dengan seorang pria yang bahkan umurnya sama dengan anaknya sendiri!” Paman tampak emosi, menahan amarah yang mulai tersulut oleh ucapannya sendiri.
Oh tidak. Tante Themia? Tante Themia berselingkuh lebih dulu? Tidak mungkin. Wanita yang tampaknya begitu keibuan, anggun, dan baik hati itu yang ternyata lebih dulu menyakiti paman? Tidak mungkin. Dia dengan tulusnya tersenyum saat aku mengaku bahwa aku berhubungan gelap dengan paman. Oh, bodoh sekali aku. Tentu saja dia tersenyum karena dia merasa tindakan paman berselingkuh denganku wajar setelah apa yang sudah Tante Themia lakukan.
“Juno tahu tentang ini?” ceplosku penasaran
“Tunggu dulu. Biarkan aku menyelesaikan ceritaku. Aku tidak langsung bertanya kepada Themia. Tapi aku mencoba mendiamkannya dulu. Dia tak pernah berkata jujur padaku. Kehidupan pernikahan kami juga semakin hambar. Akhirnya aku tak tahan lagi. Aku langsung mengajukan untuk bercerai. Kami berdua pun bertengkar hebat. Aku mengancam akan membunuh pria simpanannya itu. Themia pun langsung pingsan. Dia harus dilarikan ke Rumah Sakit. Keesokkan harinya, dokter memberitahukan kami bahwa dia terserang stroke berat. Sejak saat itu, Juno tak pernah mau berbicara denganku lagi.”
Astaga. Semuanya begitu rumit. Aku pikir tragedi ini dimulai ketika aku menjadi simpanan paman. Rupanya aku salah. Tragedi itu sudah dimulai bahkan sejak sebelum pertemuan paman denganku. Aku bahkan tidak menyangka Tante Themia yang terlebih dahulu menyakiti paman. Kesalahan yang lebih dulu dibuat mengakibatkan kesalahan-kesalahan baru lainnya yang juga harus menyeretku ikut terlibat di dalamnya.
Ternyata aku lahir sebagai seorang simpanan karena ada simpanan lain sebelumnya. Di dalam kehidupan paman dan tante. Apakah paman ingin balas dendam kepada tante yang lebih dulu menyakitinya?
"Selama Themia stroke, aku merasa kacau. Kacau karena semua kejadian yang menimpaku bertubi-tubi. Ditambah aku yakin Juno membenciku karena telah membuat mamanya menjadi seperti itu. Aku merasa gagal, baik sebagai suami maupun ayah. Aku berusaha untuk bertahan dalam kehidupanku yang seperti sudah tidak ada artinya lagi. Saat itulah aku menemukanmu. Dalam hujan, kau nampak begitu sedih. Wajahmu sangat melankolis. Aku rasa kita sama-sama hancur dan bisa saling mengisi. Aku tahu kau begitu muda. Namun jujur saja jiwa mudamu lah yang menjadi penyemangat hidupku. Aku begitu menikmati saat-saatku bersamamu. Bahkan bisa kukatakan, aku menginginkanmu," paman megatakan semuanya dengan nada berat.
Kini aku memahaminya. Kini aku mengerti mengapa paman menjadikanku seorang simpanan. Kini aku tahu aku pernah menjadi seorang simpanan karena apa. Kini aku tahu semua. Paman tidak serendah yang sebelumnya kupikir. Dia hanya seorang pria yang merasa dikhianati dan tidak diinginkan.
Tak ada asap jika tak ada api. Tak mungkin paman menginginkanku jika istrinya tidak mengkhianatinya. Semua kejadian ini sangat beralasan.
"Menjawab pertanyaanmu, aku rasa Juno tak perlu tahu. Biarkan saja ia membenciku. Aku sudah rela. Yang penting aku tetap menganggapnya sebagai anak yang kubanggakan. Kini aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku rela melepaskanmu, Erika. Demi satu-satunya sisa kebahagiaan Juno,"
Kedua kalimat terakhir paman membuatku tersentak. Ternyata dia tulus mencintai keluarganya. Siang ini, banyak sekali yang baru kuketahui tentang sosok paman. Dia bukan orang yang sesimpel itu. Dia pria yang berusaha bertahan dalam kehidupan pahit yang tidak berpihak padanya.
*
Pukul empat sore, Bandar Djakarta, Ancol. Juno belum datang. Terkejut aku karena kemarin ia bilang ingin menemuiku. Aku takut dia tak menghubungiku selama dua bulan karena dia sudah tak mau lagi melihatku.
Aku berdiri di dermaga kecil. Dermaga kecil yang menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal milik restoran ini yang dapat digunakan bagi pengunjung.
"Erika?" kudengar seseorang memanggilku.
Aku menolehkan kepalaku ke asal suara itu.
Juno. Masih begitu tampan seperti biasa. Kali ini ia tampak segar. Apalagi dengan senyumannya yang begitu hangat. Ya Tuhan, aku sudah begitu merindukannya. Benar-benar merindukannya. Ingin sekali kukatakan padanya bahwa aku tak sanggup berpisah lagi dengannya.
"Erika," panggilnya kembali, "Aku... Aku merindukanmu," katanya lirih
Ia merindukanku? Tapi mengapa setelah dua bulan ia baru mau menemuiku? Entah mengapa rasanya sulit mengatakan sesuatu pada Juno. Rasanya aku terlalu gugup.
"Aku akan kembali ke Pulau Jeju minggu depan," Apa?! Juno akan pergi lagi meninggalkan Jakarta, "Kurasa semua urusanku di sini sudah beres. Jadi buat apa lagi berlama-lama di sini?"
Tunggu. Juno tidak boleh pergi. Banyak yang belum ia ketahui. Dia harus tahu alasan utama mengapa semua peristiwa ini terjadi. Satu hal lagi, aku juga tidak mau ditinggalkannya.
"Juno, tunggu. Kamu sudah tahu semuanya? Tentang alasan pertikaian Papa dan Mamamu?" tanyaku
"Aku baru saja mengetahuinya kemarin. Kemarin aku mengunjungi Papa. Kupikir aku harus mengetahui segalanya dari dia. Maka aku bersikeras memaksanya bercerita padaku. Bagaimanapun aku anak dalam keluarganya. Aku harus mengetahuinya. Setelah itu, kupikir semua urusanku sudah beres," jelasnya datar
"Kamu sudah memaafkannya?"
Juno mengangguk. "Ya, aku sudah memaafkannya. Selama dua bulan ini aku mencoba berpikir banyak. Aku rasa situasi yang semakin menyulitkan kami. Aku tidak ingin lagi memperpanjang masalah ini. Semuanya sudah selesai."
"Bagus kalau begitu," ucapku. Sudah tak ada alasan lagi untuk menahan Juno agar ia tetap berada disini. Berarti ia memang harus pergi. Meninggalkanku. Melemparku dalam heningnya kesendirian.
"Hanya ada satu urusan yang rasanya belum selesai," ujarnya sambil menyeringai penuh misteri
"Apa?"
"Pernikahanku..," Apa?! Juno akan menikah?!!! "Dengan Erika, wanita yang paling kucintai," katanya sambil tersenyum. "Tapi sampai saat ini aku belum tahu apakah gadis itu mencintaiku atau tidak karena belum mendengar langsung dari bibirnya..."
Aku terpaku. Rasanya begitu terharu mendengar semua ucapan Juno barusan. Seperti segala impian dalam hidupku baru saja terwujud. Juno... melamarku! Sesuatu yang paling kuinginkan selama ini. Belum lagi ditambah ekspresinya yang begitu polos saat mengtakan dia belum yakin apa aku mencintainya atau tidak.
Tentu aku mencintainya. Tapi aku sedikit risih dengan masa laluku. Aku sudah begitu menyakiti keluarga Juno. Aku adalah seorang mantan simpanan. Apa aku bisa menjadi pasangan yang baik untuk Juno?
"Aku mencintaimu. Tapi sepertinya aku tidak bisa menikah denganmu. Kurasa aku bukan wanita yang tepat buatmu." kutundukkan kepalaku saat mengatakannya, tak berani menatap mata Juno.
"Siapa bilang? Aku yakin kita berdua akan menjadi pasangan yang cocok. Aku mencintaimu. Kamu pun mencintaiku. Apa lagi masalahnya? Apa yang membuat kita tidak cocok?"
"Statusku sebagai seorang mantan simpanan," tuturku pelan
"Erika. Kumohon jangan bahas masalah itu lagi. Semuanya adalah masa lalu. Kita harus membuka lembaran baru kehidupan kita. Bersama kita akan menjalani kehidupan baru sebagai pasangan yang bahagia. Hanya kamu dan aku. Juno dan Erika. Tidak ada orang lain," Juno mengeluarkan dua lembaran kertas dari kantongnya, "Ini tiket pesawat kita ke Korea. Kita akan menikah disana. Sekarang ini saatnya kamu menjawab, maukah kamu menikah denganku?"
"Ya, aku mau." jawabku akhirnya. Kurasa sudah saatnya aku memikirkan kebahagiaanku. Kebahagiaan Juno juga. Jangan hanya memikirkan masa lalu. Masa lalu tidak memerlukan kebahagiaan. Kini aku dan Juno yang begitu memerlukannya.
Juno menyunggingkan senyum paling lebarnya selama ini. Dia langsung menarikku ke dalam pelukkannya. Membiarkanku merasakan kehangatannya. Puas berpelukkan, Juno melepaskanku. Namun ia tak membiarkanku jauh dari jangkauannya. Ia menatap wajahku begitu lekat. Menghilangkan jarak di antara wajah kami. Dengan perlahan, ia menyapukan bibirnya yang lembut pada bibirku. Aku terhanyut dalam ciuman kami. Ciuman panjang yang begitu memabukkan.
Senja ini menjadi saksi kisah kami. Kisah cinta kami yang baru saja akan dimulai. Senja ini turut menjadi saksi bahwa aku dan Juno sudah resmi berpisah dengan semua masalah yang pernah mengganggu hidup kami. masa lalu memang tak pernah bisa lepas dari hidup seseorang. Tapi aku dan Juno akan berusaha sekuat tenaga untuk masa depan kami yang bahagia.
Mulai saat ini, aku berpisah secara resmi dengan status simpanan. Tidak ada lagi masalah simpanan dalam hidupku.
"Juno, sebosan mungkin kamu pada diriku nanti, kuharap kamu tidak mencari wanita simpanan untuk menemanimu," bisikku pelan di telinganya. Kami berdua tertawa terbahak-bahak.
"Tidak akan pernah. Sampai kapanpun aku hanya mencintaimu,"
Selesai
21.07
Jumat, 27 November 2009
Calvin
PS: Thanks buat semua pembaca yang setia ngikutin serial "Simpanan" dari episode satu.
"Romansa Hitam" bakal gw buat jadi novel. Jadi bakal terbit secara berkala per chapter.
Ditunggu yah. Tetap setia sama cerita2 gw. =)
2009/11/18
Rincian Kegiatan Gw dalam Hari-Hari Yang Membosankan
Huhhhh... gw nulis post ini bisa dibilang pada saat yang nggak tepat. Kenapa? Banyak banget tugas yang harus dikerjain. Gw gak ngerti kenapa semua dosen bisa kompakan segitunya buat ngasi kita tugas segitu banyak.
Terutama Bahasa Inggris. Kayaknya nggak ada rasa puasnya membebani kita dengan tugas-tugas yang rada-rada nggak penting. Katanya sih buat perbaikin nilai UTS kemarin yang jelek-jelek. Awas aja pokoknya sampe nilainya tetep pada jelek padahal kita udah ngerjain semua tugasnya.
Kali ini gw akan bercuap-cuap tentang kehidupan gw dan dunia perkuliahan yang mulai terasa agak membosankan. Yah, gw rasa gw agak nggak tahu diri. PAS SMA, ada momen dimana gw bener-bener eneg banget masuk sekolah dan pingin buru-buru lulus. Tapi giliran udah lewat, malah muncul keinginan buat kembali ngerasain High School moment.
Intinya jadwal gw setiap pagi adalah bangun, gosok gigi, mandi, sarapan, dan boker dua kali sebelum berangkat ke kampus. Kadang boker bisa tiga kali kalau lagi dalam masa subur. (Apaan sih emangnya?? wkwkwkwk) Masuk kuliah, rasanya gitu-gitu aja. Enak sih dengan temen-temen yang udah deket. Asik banget ngobrol bareng mereka. Tapi kuliahnya kayak berjalan di tempat gitu. Diceramahin materi kuliah dengan suasana yang sama setiap pertemuannya.
Pengantar Ilmu Komunikasi (PIK), rasanya ketakutan dan deg2an abis gara-gara nggak mau dipanggil ke depan dan mempermalukan diri sendiri. Dosennya seneng banget manggil-manggil kita ke depan buat praktekin teori komunikasi yang ada di buku. Jujur gw males banget.
Bahasa Inggris, ngerjain latihan di kertas fotocopyan yang dia bawa. Hampir semua tugasnya berhubungan dengan translate-mentranslate. Rasanya eneg ngerjain begituan.
Manajemen, dengerin presentasi dari banyak orang yang biasanya cepet banget sampe2 gw nggak ngerti mereka jelasin apa dan baru gw buka halaman bukunya tahu2 mereka jelasin udah sampe jauh banget.
Bahasa Indonesia, dengerin penjelasan dari dosen yang sebenernya jelasinnya lumayan ngerti meski dia ngomong dengan nada yang sangat datar dan hampir-hampir gak ada intonasi dan penekanan tertentu. Honestly i was confused enough about how she has been becoming a news presenter in local TV channel with her way of speaking. Tapi gw seneng, hasil UTS mata kuliah ini satu-satunya yang bisa bikin gw ngerasa puas.
Sosiologi, penjelasan dosen ini sebenernya ok banget. Tapi gw capek ngelihat emosinya yang terlalu labil dan aktif kayak gunung berapi. Ada yang dia gak seneng dikit, ngoceh. Kalau nggak, bentak-bentak bahkan tadi dia ketok meja gitu. Huh.
Psikologi, dosen ini udah Profesor. Menurut gw dia mantap banget ngajarnya. Sayang suaranya agak kecil dan gw maklum karena dia udah nggak muda lagi. Tapi setiap mata kuliah ini kelas kita rasanya kayak udah disulap semua manusianya jadi bebek di pasar yang lehernya udah mau dipotong. (wkwkwkwkwk, maaf teman-teman.)
Pengantar Ilmu Politik, yah ini sih agak lumayan. Kelas lumayan terkontrol dengan kejayusan sang dosen. Meski kadang jokesnya suka diulang-ulang setiap minggunya.
Yah, gitu deh kira-kira suasana mata kuliah yang gw lewatin setiap minggunya. Hampir-hampir nggak ada perbedaan yang signifikan.
Di luar kuliah, gw ngapain aja? Yah, gitu-gitu doang sih, keluar rumah dengan keluarga tercinta atau teman2 tersayang.
Kalau di rumah, gw lagi ngapain aja? Nulis cerita fiksi gw, berusaha ngelunasin utang sama temen-temen yang penasaran kelanjutan "Simpanan". Untung utang gw tinggal 1 episode lagi. Gini nih, gak enaknya buat cerita bersambung, rasanya hati gw gak tenang sebelum nyelesein tuh cerita. Tapi gw thanks banget buat temen2 yang udah ngikutin serial "Simpanan" sejak dari episode 1.
Selain nulis, palingan gw ngerjain tugas. Baca buku akhir2 ini nggak sempet. Baca "The Host"nya Stephenie Meyer aja belum selesai-selesai padahal udah mulai dari sejak lama. Gw berharap aja tokoh utama cewek di novel ini (Melanie Stryder) sikap dan pemikirannya nggak sejijik Isabella Swan. wkwkwkwkwk.
Lagu yang lagi gw dengerin dan nyanyiin akhir-akhir ini lagunya "Paparazzi" dari Lady Gaga sama "Rasa Ini" dari Vierra.
Aduh, sekarang ini sebenernya gw lag ngerjain tugas sosiologi mengenai problema sosial. Topik yang kelompok gw ambil adalah kemiskinan. So, udah dulu yeee cuap2nya. Back to work dulu.
See you in the next post!
Terutama Bahasa Inggris. Kayaknya nggak ada rasa puasnya membebani kita dengan tugas-tugas yang rada-rada nggak penting. Katanya sih buat perbaikin nilai UTS kemarin yang jelek-jelek. Awas aja pokoknya sampe nilainya tetep pada jelek padahal kita udah ngerjain semua tugasnya.
Kali ini gw akan bercuap-cuap tentang kehidupan gw dan dunia perkuliahan yang mulai terasa agak membosankan. Yah, gw rasa gw agak nggak tahu diri. PAS SMA, ada momen dimana gw bener-bener eneg banget masuk sekolah dan pingin buru-buru lulus. Tapi giliran udah lewat, malah muncul keinginan buat kembali ngerasain High School moment.
Intinya jadwal gw setiap pagi adalah bangun, gosok gigi, mandi, sarapan, dan boker dua kali sebelum berangkat ke kampus. Kadang boker bisa tiga kali kalau lagi dalam masa subur. (Apaan sih emangnya?? wkwkwkwk) Masuk kuliah, rasanya gitu-gitu aja. Enak sih dengan temen-temen yang udah deket. Asik banget ngobrol bareng mereka. Tapi kuliahnya kayak berjalan di tempat gitu. Diceramahin materi kuliah dengan suasana yang sama setiap pertemuannya.
Pengantar Ilmu Komunikasi (PIK), rasanya ketakutan dan deg2an abis gara-gara nggak mau dipanggil ke depan dan mempermalukan diri sendiri. Dosennya seneng banget manggil-manggil kita ke depan buat praktekin teori komunikasi yang ada di buku. Jujur gw males banget.
Bahasa Inggris, ngerjain latihan di kertas fotocopyan yang dia bawa. Hampir semua tugasnya berhubungan dengan translate-mentranslate. Rasanya eneg ngerjain begituan.
Manajemen, dengerin presentasi dari banyak orang yang biasanya cepet banget sampe2 gw nggak ngerti mereka jelasin apa dan baru gw buka halaman bukunya tahu2 mereka jelasin udah sampe jauh banget.
Bahasa Indonesia, dengerin penjelasan dari dosen yang sebenernya jelasinnya lumayan ngerti meski dia ngomong dengan nada yang sangat datar dan hampir-hampir gak ada intonasi dan penekanan tertentu. Honestly i was confused enough about how she has been becoming a news presenter in local TV channel with her way of speaking. Tapi gw seneng, hasil UTS mata kuliah ini satu-satunya yang bisa bikin gw ngerasa puas.
Sosiologi, penjelasan dosen ini sebenernya ok banget. Tapi gw capek ngelihat emosinya yang terlalu labil dan aktif kayak gunung berapi. Ada yang dia gak seneng dikit, ngoceh. Kalau nggak, bentak-bentak bahkan tadi dia ketok meja gitu. Huh.
Psikologi, dosen ini udah Profesor. Menurut gw dia mantap banget ngajarnya. Sayang suaranya agak kecil dan gw maklum karena dia udah nggak muda lagi. Tapi setiap mata kuliah ini kelas kita rasanya kayak udah disulap semua manusianya jadi bebek di pasar yang lehernya udah mau dipotong. (wkwkwkwkwk, maaf teman-teman.)
Pengantar Ilmu Politik, yah ini sih agak lumayan. Kelas lumayan terkontrol dengan kejayusan sang dosen. Meski kadang jokesnya suka diulang-ulang setiap minggunya.
Yah, gitu deh kira-kira suasana mata kuliah yang gw lewatin setiap minggunya. Hampir-hampir nggak ada perbedaan yang signifikan.
Di luar kuliah, gw ngapain aja? Yah, gitu-gitu doang sih, keluar rumah dengan keluarga tercinta atau teman2 tersayang.
Kalau di rumah, gw lagi ngapain aja? Nulis cerita fiksi gw, berusaha ngelunasin utang sama temen-temen yang penasaran kelanjutan "Simpanan". Untung utang gw tinggal 1 episode lagi. Gini nih, gak enaknya buat cerita bersambung, rasanya hati gw gak tenang sebelum nyelesein tuh cerita. Tapi gw thanks banget buat temen2 yang udah ngikutin serial "Simpanan" sejak dari episode 1.
Selain nulis, palingan gw ngerjain tugas. Baca buku akhir2 ini nggak sempet. Baca "The Host"nya Stephenie Meyer aja belum selesai-selesai padahal udah mulai dari sejak lama. Gw berharap aja tokoh utama cewek di novel ini (Melanie Stryder) sikap dan pemikirannya nggak sejijik Isabella Swan. wkwkwkwkwk.
Lagu yang lagi gw dengerin dan nyanyiin akhir-akhir ini lagunya "Paparazzi" dari Lady Gaga sama "Rasa Ini" dari Vierra.
Aduh, sekarang ini sebenernya gw lag ngerjain tugas sosiologi mengenai problema sosial. Topik yang kelompok gw ambil adalah kemiskinan. So, udah dulu yeee cuap2nya. Back to work dulu.
See you in the next post!
Labels:
experience,
mind
2009/11/01
All My Favourite Food, Drink, Appetizer, and Dessert Shops
Di post kali ini, gw akan mereview segala tempat-tempat gw biasa ngehabisin duit untuk sesuatu yang bakal masuk ke mulut gw.
Yahh,, jujur aja hampir semua toko2 itu ada di dalem mall. Akhir-akhir ini, gw ngerasa mall itu udah menjadi suatu tempat yang lengkap banget buat kita untuk menuhin kebutuhan kita. Belanja dari semua merk fashion ternama, sibuk sana-sini ngubek-ngubek barang diskon, nyanyi teriak-teriak di karaoke, nonton di bioskop, makan cemilan sampai yang paling berat, dan tentunya belanja kebutuhan sehari-hari di supermarket.
Nah, gw bakal mulai ngereview.
(Permata Hijau, Plaza Indonesia, Pacific Place, Coming Soon: Mal Kelapa Gading 5, Mal Taman Anggrek)
Nah, resto yang satu ini salah satu resto yang oke banget menurut gw. Dari appetizer sampe dessert semuanya enak-enak. Bahkan kalau mau breakfast di sini, ada paket breakfast ala hotel 5 star. Dalam satu piring, ada bacoon, sausage, ommelette, dan lain-lain. Untuk main coursenya, ada pasta dan steak.
Pertama kali gw nyobain Pancious itu pas ultah Sung2. Bodohnya waktu itu gw malah boker2, kayaknya gara2 minum minuman aneh gak jelas yang rasanya mengerikan itu deh.
Anyway, fettucini mushroom di sini enak. Dan banyak juga pasta2 lain di sini yang enak, tapi gw lupa namanya. Yang creamy-creamy apa gitu gw lupa.
Pancake dan wafflenya juga lengkap. Cuma menu pancake favourite gw di Pancious itu Blueberry Cheese Double Pancake. Rasanya enak banget. Dua slice pancake yang ditiban sama vanilla ice cream dan saus blueberry ini sebenarnya cukup bisa bikin gw kekenyangan. Tapi dasar perut gw aja yang gak tau diri sampe2 bisa ngabisin satu pasta dan satu Double Blueberry Cheese Pancake.
(Plaza Senayan, Mall Taman Anggrek, Plaza Indonesia, Express: Emporium Pluit Mall, Senayan City, Kelapa Gading 3, Pondok Indah Mall 2)
Wah, kalau menurut gw Pepper Lunch itu adalah salah satu restoran yang cukup unik dalam hal penyajiannya. Lu masih harus masak-masak (ngaduk-ngaduk) makanan lu dengan sendok karena pas disajiin, beberapa bagian belum mateng. Biasanya pas ngaduk2, kita masih bisa nambahin bumbu2 yang ada di meja kayak pepper atau honey.
Menu yang menurut gw enak itu Beef Pepper Rice dan Hamburger Steak.
Beef Pepper Rice gak terlalu mahal sih. Tapi, Hamburger Steak? Cukup menguras dompet.
Tapi masalah rasa, gw rasa nggak bakalan kecewa deh.
(Kelapa Gading Mall, Senayan City, Pacific Place, Mall Taman Anggrek, Plaza Indonesia Extension, Emporium Pluit Mall)
Old Chang Kee merupakan stand snack-snack yang berasal dari Singapore. Biasa kita sering nemuin di jalan2 ang ada di Singapore. Tapi nggak perlu jauh-jauh ke SG buat nikmatin snack-snack penuh minyak dari Old Chang Kee. Di berbagai mall di Jakarta juga ada.
Snack favorit gw di sini itu Squid Head dan Squid Wing. Sayangnya di Jakarta, udah 5 bulan nggak ada stoknya. Pas kemaren gw ke SG, gw dah melepaskan kerinduan gw dengan kedua snack itu. Nah, selagi dua snack enak itu belum ada, yang bisa kita lahap itu adalah Fish Ball dan Fried Siomaynya. Ditambahin saus sambel, rasanya OK banget.
Biasanya sih gw diem2 nyelundupin OCK buat ditonton di bioskop. Sebelum tuh studio dimatiin lampunya, gw masukin dulu sambelnya ke dalem. Lampu mati, film mulai, masuk deh tuh makanan ke mulut gw.
(Pluit Junction, Emporium Pluit Mall, Pluit Village, Central Park, Kelapa Gading Mall)
Ini nih yang lagi demen-demennya gw makanin. Snack dari Taiwan ini emang asik banget buat dimasukin ke mulut dan ngeganggu lidah kita dengan merica yang banyak.
Andalan Shihlin itu pastinya XXL Crispy Chicken dong. Ayam berukuran besar yang digoreng dengan tepung lalu dipotong-potong dengan gunting sebelum ditaburi merica yang banyak ini pasti mampu buat lu rela ngeluarin kocek 2oribu.
Anyway, ada juga Seafood Tempura dan Oyster Meesua yang nggak kalah enak. Kalu mau makan nasi, lu bisa nyobain Seafood Tempura Rice atau Happy Rice Box.
Selamat Nyobain!!!
(dah lebih dari 10 cabang. Biasa gw makan di: Emporium Pluit Mall, Kelapa Gading Mall, Djakarta Theatre, Senayan City, Grand Indonesia)
Yap, salah satu brand makanan dari PT Mitra Adi Perkasa Tbk. ini lagi populer banget. Gw salah satu orang yang addicted banget dalam menikmati paket-paket burger dari BK ini.
Burger yg gw suka = Whopper, Black Pepper, Mushroom Swiss dan Beefacon.Semuanya enak banget.
Makan di sini emang puas banget. Harga masih OK lah. Sesuai ama porsi makanannya. Kentangnya banyak pula. Mau upsize tinggal tambah Rp 4 ribu.
(banyak cabangnya, gak susah buat dicari)
Yang paling gw suka dari Bakmi GM itu Nasi Goreng Smoked Chickennya. Yah, minyaknya agak banyak sih. Tapi rasanya ok lah.
Untuk appetizernya, pangsit gorengnya enak banget deh. Jauh lebih enak daripada pangsit goreng Mi Tarik Laiker atau Solaria.
Bakmi GM salah satu tempat makan yang nggak sejahat itu untuk buat kita bokek kok.
7) Ya Kun Kaya Toast 

(Banyak cabangnya. Di PS dan Plaza Indonesia namanya Ya Kun Toastwich)
Coffeestall ini dari Singapore. Minuman yang enak itu Kopi Es dan Teh Tariknya. Perlu dicoba.
Buat yang demen roti panggang, Original Kaya Toast Ya Kun lah yang terbaik!! Pas banget rasanya.
(Dimanapun!)
Tempat minum kopi terbaik menurut gw. Desain oke. Tempat enak. Promosi juga oke.
Pengguna Kartu Kredit BCA biasanya bakalan selalu puas dengan promo bulanan yang asik di Starbucks Coffee. Biasanya sih Buy One Get One Free.
Kalau lagi gak ada promo bulanan kayak gitu, BCA Cardholder juga bisa nikmatin free upsize. Lumayan kan? Biasanya sih gw seneng banget bisa free upsize dari Grande ke Venti.
Minuman favorit gw dari dulu ampe sekarang = Blended Caramel Frappuccino. Dark Mochanya juga enak sih tapi mahal.
(Senayan City, Grand Indonesia, Plaza Senayan, Cilandak Town Square, FX Plaza, Kelapa Gading Mall)
Lagi2 brand yang dipegang sama PT MAP Tbk. Es krim yang satu ini enak banget. Apalagi kalau ada promosi dari BCA yaitu diskon 50% untuk semua varian es krimnya. hahaha (manusia nggak mau rugi).
Kita bisa milih ice creamnya, mau kreasiin sendiri (free topping biasanya), atau ikutin Signature Creation (agak mahal sih, tapi ukuran gede dan rasa terjamin).
Rasa favorit? Jelas Cookies and Cream dan Cheesecakenya donggg...
(Pondok Indah Mall, Kelapa Gading Mall, Pluit Village, Central Park, Coming soon: Plaza Indonesia)
Udah pernah gw review.
Pesanan Favorit? Pome Twist Large. Peach juga sih.
Di sini enjoy banget deh. Mbaknya gak pelit..... (dan friendly)
Sekedar info; kata mbaknya HB mau buka di DUBAI. Wowwww...
(La Codefin Kemang, Taman Anggrek, Senayan City, Grand Indonesia, Emporium Pluit, Pacific Place, PX Pavillion Puri Indah, Plaza Indonesia, Istana Plaza Bandung, Paris Van Java Bandung, Galaxy Mall Surabaya)
Udah pernah direview juga di post "Frozen Yogurt Addicted"
Enak banget deh pokoknya!!! Promo2nya juga menarik.
Kekurangannya cuma kurang banyak aja ngasihnya. Nggak kayak HB.
Green Tea, Original, dan Pinkliciousnya enakkk!!!
2009/10/28
Keliling Dunia = Impian
Mmmm,, harus dimulai dari mana yah??
Gw suka banget travelling ke luar negeri. Rasanya enjoy banget nikmatin suasana di luar negeri. Airportnya aja nyenengin. Gw suka banget sama suasana airport, meskipun cuma di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Gw enjoy sama suasana airport. Gw suka nunggu di boarding room. Deg2an nungguin pesawat yg bakal bawa gw keluar dari Jakarta. Apalagi kalo tujuannya yang jauh-jauh.
Intinya, gw harap gw bisa pergi ke banyak negara yang ada. Gw pingin ke Eropa, Amerika, bahkan Afrika. Gw pingin ngunjungin semua Disneyland yang ada di dunia.
Gw pengen banget naik berbagai pesawat dari berbagai negara. Pingin nikmatin semua perbedaannya.
Pingin ikut tour eksklusif dari WITA Tour, nginep di hotel2 yang mahal di luar negeri, makan di restoran-restoran mahal yang makanannya enak-enak, dan belanja sepuasnya tanpa harus mikirin keterbatasan duit!
Pengen habisin puluhan ribu dolar tanpa mikir!!!!! (hedonis banget gak sih gw??)
tapi rasanya bakal seneng banget yah kalo jadi orang yang bener2 kaya (apalagi duitnya ngehasilin sendiri, bukan harta orang tua).
Anyway, gw pingin banget punya kesempatan lagi bisa ke Australia, dateng ke Movie World. Dan ke NEW ZEALAND (gw rindu banget sama Burung2 Kiwi, Burung Albatross, dan Penguin).
Do you guys all miss me? Gw masi kecil banget waktu kesana, makanya gw harap bisa kesono lagi suatu saat.. Gereja2 di Christchruch juga kerennn.. Suasana New Zealand mantap abisss!
Yang paling bikin gw excited banget adalah gua Glow Worms di NZ. Sumpah keren abis! Masuk ke dalem naik kapal dan ngelihatin indahnya pemandangan asli cacing-cacing yang bisa ngeluarin sinar biru di dalem gua. Really beautiful!!! Terus di dalem guanya, bisa liat stalagnit dan stalagtit.

Karna foto2 gw di Glow Worms Cave ada di album foto yang entah terletak dimana.. jadi pake gambar ini aja. Begitulah suasana Waitomo Glow Worms Cave.
Thanx banget buat Mama yg udah selalu ngehabisin waktu travellingnya bareng aku! Aku gak bakalan lupa sama Mama. Aku harus ngajak Mama keliling dunia.... Whatever happens. I must be success to make you smile.
Gw suka banget travelling ke luar negeri. Rasanya enjoy banget nikmatin suasana di luar negeri. Airportnya aja nyenengin. Gw suka banget sama suasana airport, meskipun cuma di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Gw enjoy sama suasana airport. Gw suka nunggu di boarding room. Deg2an nungguin pesawat yg bakal bawa gw keluar dari Jakarta. Apalagi kalo tujuannya yang jauh-jauh.
Intinya, gw harap gw bisa pergi ke banyak negara yang ada. Gw pingin ke Eropa, Amerika, bahkan Afrika. Gw pingin ngunjungin semua Disneyland yang ada di dunia.
Gw pengen banget naik berbagai pesawat dari berbagai negara. Pingin nikmatin semua perbedaannya.
Pingin ikut tour eksklusif dari WITA Tour, nginep di hotel2 yang mahal di luar negeri, makan di restoran-restoran mahal yang makanannya enak-enak, dan belanja sepuasnya tanpa harus mikirin keterbatasan duit!
Pengen habisin puluhan ribu dolar tanpa mikir!!!!! (hedonis banget gak sih gw??)
tapi rasanya bakal seneng banget yah kalo jadi orang yang bener2 kaya (apalagi duitnya ngehasilin sendiri, bukan harta orang tua).
Anyway, gw pingin banget punya kesempatan lagi bisa ke Australia, dateng ke Movie World. Dan ke NEW ZEALAND (gw rindu banget sama Burung2 Kiwi, Burung Albatross, dan Penguin).
Do you guys all miss me? Gw masi kecil banget waktu kesana, makanya gw harap bisa kesono lagi suatu saat.. Gereja2 di Christchruch juga kerennn.. Suasana New Zealand mantap abisss!
Yang paling bikin gw excited banget adalah gua Glow Worms di NZ. Sumpah keren abis! Masuk ke dalem naik kapal dan ngelihatin indahnya pemandangan asli cacing-cacing yang bisa ngeluarin sinar biru di dalem gua. Really beautiful!!! Terus di dalem guanya, bisa liat stalagnit dan stalagtit.

Karna foto2 gw di Glow Worms Cave ada di album foto yang entah terletak dimana.. jadi pake gambar ini aja. Begitulah suasana Waitomo Glow Worms Cave.
Thanx banget buat Mama yg udah selalu ngehabisin waktu travellingnya bareng aku! Aku gak bakalan lupa sama Mama. Aku harus ngajak Mama keliling dunia.... Whatever happens. I must be success to make you smile.
2009/10/25
Marriage Time
Lagi-lagi aku harus mendengarkan ocehan Papa dan Mama yang sudah mereka ulangi tiga kali sepanjang minggu ini. Apa mereka tidak lelah terus-terusan mengulangnya? Aku saja yang mendengarnya sudah muak.
Ini sudah saatnya kamu menikah. Kapan kamu mau menikah? Sudah bertemu pasangan yang tepat belum? Apa tidak bosan jadi bujangan terus? Papa dan Mama sudah nggak sabar mau nimang cucu nih. Variasi kalimat semacam itulah yang terus mereka lontarkan padaku. Semuanya selalu kujawab dengan nada malas.
Bukannya aku tidak mau terikat dalam sebuah pernikahan. Hanya saja aku tidak mau terburu-buru, tidak mau menikah jika alasannya hanya karena terus didesak orang tua. Tidak mau menikah karena alasan waktu. Tidak mau menikah hanya karena usiaku sudah dua puluh sembilan tahun, usia yang menurut orang-orang sudah kurang pantas menjadi bujangan lagi.
Aku juga tidak mau menikah jika belum menemukan sesosok wanita yang bisa membuatku yakin bahwa ia memang tercipta untukku, juga sebaliknya. Aku untuknya. Ia untukku. Kami untuk kami.
Ya, aku Flott Rodiart memang terdengar idealis mengenai pernikahan. Tapi aku tak peduli. Ini pernikahanku. Bukan pernikahan orang tuaku. Bukan pernikahan kalian semua yang mentang-mentang sudah menikah jadi memaksa-maksaku menikah.
Lagipula rasanya aku sebal jika harus bersikap seperti orang-orang lain yang sejak kuliah begitu bernafsunya mencari jodoh. Hingga setiap hari yang dibicarakan mengenai pacar saja. Kurasa mereka semua takut menjadi bujangan lapuk atau perawan tua.
Cinta bukanlah untuk diekspos. Cinta adalah milik pribadi yang intim. Sesuatu yang menjadi rahasia manis pasangan yang berbahagia.
Sesungguhnya juga alasanku belum menikah adalah karena menunggu sinyal-sinyal yang kuharap segera muncul dari wanita di hadapanku ini. Wanita yang sibuk mempresentasikan desain produk terbaru perusahaan.
Dlyanne Smuras. Lian. Wanita yang berhasil mengalihkan seluruh duniaku hanya padanya. Seluruh khayalanku. Seluruh pekerjaanku. Seluruh makananku. Seluruh waktuku.
Aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku. Aku terlalu pengecut untuk bisa menerima kenyataan jika nantinya dia menolakku. Aku terlalu takut untuk mencaritahu secara langsung bagaimana sebenarnya perasaannya padaku.
Tiba-tiba matanya terarah padaku. Aku mulai merasa salah tingkah. Kulirik kanan dan kiri. Ternyata berpasang-pasang mata lainnya juga memandangiku. Ada apa memangnya?
“Pak Flott, bagaimana menurut anda? Apakah kemasan produk ini sudah cukup menarik? Kami hanya tinggal menunggu persetujuan Bapak.”
Kelihatannya aku terlalu lama melamun.
* * *
Malam ini hujan turun dengan derasnya. Jalanan begitu macet pula. Aku begitu bersyukur tidak sedang mengendarai mobil bertipe manual karena pasti rasa penat kakiku akan berlipat ganda.
Aku mencoba mencari jalan pintas yang agak sepi, berharap bisa lebih cepat sampai ke apartemen. Namun kelihatannya usahaku itu mengarah pada sebuah kesialan besar.
Mobilku mendadak berhenti. Mesinnya tidak mau menyala.
Aku turun dari mobil setelah membuka kap mobil dengan menekan tombol yang ada di dalam mobil. Kuangkat kap mobil, mencoba mengecek satu-persatu keadaan mesin. Berusaha mengutak-ngatik mesin dengan sok tahunya.
Biasanya supir keluarga kami yang melakukan pengecekan rutin sebulan sekali.Tapi kelihatannya mobil ini belum dicek. Sial. Sial. Sial. Di jalanan yang bukan jalan raya ini sepertinya sulit mencari bantuan.
Sebuah mobil Toyota Yaris berhenti tepat di depan mobilku. Sesosok wanita keluar dari dalamnya tanpa memayungi dirinya. Kupandangi wanita yang berpakaian ala kantor itu.
Lian. Ternyata Lian. Mengapa di saat genting seperti ini yang muncul malah Lian? Konyol sekali jika Lian melihat kerepotanku saat ini.
“Flott. Kenapa mobil kamu? Mogok ya?” tanyanya lembut
“Oh, iya nih. Tiba-tiba aja berhenti. Aku udah ngecek-ngecek barusan. Kayaknya semua oke-oke aja deh,” jawabku kikuk
Dia langsung menyibukkan diri di balik kap mobilku. Mencoba mencaritahu apa penyebab mobilku mogok.
“Sedia air aki?” dia mengangkat wajahnya, menatapku ketika bertanya
“Ada di bagasi mobil,” aku segera melesat ke bagasi untuk segera mengambil botol air aki yang dia minta. Kuberikan botol akinya cepat-cepat padanya. Dia mengisi tangki aki lalu menutupnya. Dia juga menyerahkan kembali botol akinya padaku.
“Beres! Cuma kurang air akinya aja kok!” ujarnya senang, bersemangat. Ternyata hanya karena kurang aki? Malu sekali aku. Betapa bodohnya tidak tahu kalau aki mobilku kurang sehingga mobilnya mogok.
“Terima kasih, Lian,” ucapku malu-malu namun tulus.
“Sama-sama” balasnya singkat sambil tersenyum manis.
Kami berdua diam. Terhanyut dalam tatapan kami. Aku menatapnya. Dia menatapku. Keheningan menyelimuti kami karena hujan tidak lagi turun. Tidak ada lagi yang bersuara. Selain suara degup jantungku yang semakin cepat.
“Lian, aku mau ngomong sesuatu. Sudah lama aku mencoba mengartikan perasaanku padamu. Semakin lama aku semakin yakin bahwa perasaanku ke kamu adalah cinta. Mungkin ini terlalu mendadak buat kamu, tapi aku ingin tahu perasaan kamu ke aku gimana. Apa kamu mau menjadi kekasihku?” kuberanikan diri menyatakan semuanya, bahkan memintanya menjadi kekasihku.
“Flott, tunggu sebentar.” Lian mengeluarkan cermin lipat dari tas tangannya. Kemudian membukanya lalu mengarahkannya padaku.
Sial. Wajahku penuh dengan noda hitam. Sepertinya ini akibat aku terlalu dekat mengecek mesin-mesin itu dan tanpa sadar memegang-megang muka dengan tangan yang kotor.
Mana mau Dlyanne Smuras yang begitu dewasa menerimaku yang berwajah cemongan ketika menyatakan cinta sebagai kekasihnya?
* * *
Satu tahun kemudian,
Malam ini adalah malamku. Malam milikku dan pengantinku. Malam penuh kebahagiaan semua pihak yang sudah menunggu-nunggu saat ini. Saat pernikahanku. Saat aku sudah tidak lagi lajang. Saat aku sudah resmi menjadi suami dari seorang wanita.
“Flott, Papa dan Mama senang sekali akhirnya kamu bisa menikah juga. Apalagi kamu menikah dengan wanita yang sesuai kriteria Mama,” bisik Mama di telingaku saat kami semua sedang sibuk menyalami tamu-tamu di atas panggung.
“Ini karena aku juga sudah bosan mendengar desakkan Mama untuk segera menikah,” sahutku dengan suara pelan sebelum dicubit perutnya oleh Mama
Aku kembali tersenyum. Bahagia dengan semua ini. Bahagia dengan saat pernikahanku. Momen-momen pernikahanku yang tak akan pernah kulupakan sampai akhir hidupku nanti.
Kutatap wanita yang kini sudah resmi menjadi istriku. Wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku.Wanita yang akan mendampingiku seumur hidup. Wanita yang akan menemaniku hingga kami sama-sama tua nanti.
Untungnya wanita itu bukan wanita lain. Bukan wanita yang tak kukenal. Bukan wanita yang tak kuinginkan. Bukan wanita pilihan orang lain di luar pilihanku.
Wanita itu adalah Dlyanne Smuras. Wanita yang setahun lalu resmi menjadi kekasihku. Wanita yang sanggup membuatku jatuh cinta setiap hari. Wanita yang selalu membuat kejutan-kejutan manis. Wanita yang tak akan pernah berhenti kupuja.
Satu lagi, ia wanita yang menerima cintaku setelah memperlihatkan wajahku yang penuh noda hitam.
Biarkan orang mau berkata apa. Aku tak peduli aku menikah dalam usia tiga puluh tahun. Aku bahkan tidak peduli jika harus menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan saat pernikahan seperti ini.
Saat pernikahan dimana pada karangan-karangan bunga tertulis besar-besar nama Flott Rodiart dan Dlyanne Smuras. Saat pernikahan ketika aku bisa tersenyum bahagia sambil menggenggam erat tangan istriku. Juga saat pernikahan ketika MC menginstruksikanku untuk melakukan wedding kiss dengan Lian.
Kulirik kembali wajah istriku yang tampak begitu memikat dalam gaun pernikahannya. Wajahnya tampak berseri-seri dan begitu bahagia. Kugenggam tangannya. Kutatap dalam-dalam wajahnya.
"Kamu capek, Lian?"
"Nggak, aku terlalu bahagia untuk sekedar ngerasa capek,"
Kata-katanya itu membuatku tersentuh. Dia bahagia. Aku bahagia. Inilah yang selama ini kami cari. Kebahagiaan. Kali ini diwujudkan dengan pernikahan kami. Kusapukan pelan bibirnya yang lembut dengan bibirku ini. Tak cukup puas dengan momen wedding kiss tadi.
Ciuman kami berlangsung panjang. Lupa dengan semua tamu yang hadir, mereka semua kini sedang bertepuk tangan dengan riuh menikmati pemandangan di hadapan mereka. Aku tak peduli. Kami tak peduli.
Inilah kebahagiaan kami.
Well, marriage time is not when other people think it’s the time for you to get married. Marriage time is when you finally can get married with someone suits you. Someone who will stand by your side wherever you are.
21.19
Minggu, 25 Oktober 2009
Calvin
Ini sudah saatnya kamu menikah. Kapan kamu mau menikah? Sudah bertemu pasangan yang tepat belum? Apa tidak bosan jadi bujangan terus? Papa dan Mama sudah nggak sabar mau nimang cucu nih. Variasi kalimat semacam itulah yang terus mereka lontarkan padaku. Semuanya selalu kujawab dengan nada malas.
Bukannya aku tidak mau terikat dalam sebuah pernikahan. Hanya saja aku tidak mau terburu-buru, tidak mau menikah jika alasannya hanya karena terus didesak orang tua. Tidak mau menikah karena alasan waktu. Tidak mau menikah hanya karena usiaku sudah dua puluh sembilan tahun, usia yang menurut orang-orang sudah kurang pantas menjadi bujangan lagi.
Aku juga tidak mau menikah jika belum menemukan sesosok wanita yang bisa membuatku yakin bahwa ia memang tercipta untukku, juga sebaliknya. Aku untuknya. Ia untukku. Kami untuk kami.
Ya, aku Flott Rodiart memang terdengar idealis mengenai pernikahan. Tapi aku tak peduli. Ini pernikahanku. Bukan pernikahan orang tuaku. Bukan pernikahan kalian semua yang mentang-mentang sudah menikah jadi memaksa-maksaku menikah.
Lagipula rasanya aku sebal jika harus bersikap seperti orang-orang lain yang sejak kuliah begitu bernafsunya mencari jodoh. Hingga setiap hari yang dibicarakan mengenai pacar saja. Kurasa mereka semua takut menjadi bujangan lapuk atau perawan tua.
Cinta bukanlah untuk diekspos. Cinta adalah milik pribadi yang intim. Sesuatu yang menjadi rahasia manis pasangan yang berbahagia.
Sesungguhnya juga alasanku belum menikah adalah karena menunggu sinyal-sinyal yang kuharap segera muncul dari wanita di hadapanku ini. Wanita yang sibuk mempresentasikan desain produk terbaru perusahaan.
Dlyanne Smuras. Lian. Wanita yang berhasil mengalihkan seluruh duniaku hanya padanya. Seluruh khayalanku. Seluruh pekerjaanku. Seluruh makananku. Seluruh waktuku.
Aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku. Aku terlalu pengecut untuk bisa menerima kenyataan jika nantinya dia menolakku. Aku terlalu takut untuk mencaritahu secara langsung bagaimana sebenarnya perasaannya padaku.
Tiba-tiba matanya terarah padaku. Aku mulai merasa salah tingkah. Kulirik kanan dan kiri. Ternyata berpasang-pasang mata lainnya juga memandangiku. Ada apa memangnya?
“Pak Flott, bagaimana menurut anda? Apakah kemasan produk ini sudah cukup menarik? Kami hanya tinggal menunggu persetujuan Bapak.”
Kelihatannya aku terlalu lama melamun.
* * *
Malam ini hujan turun dengan derasnya. Jalanan begitu macet pula. Aku begitu bersyukur tidak sedang mengendarai mobil bertipe manual karena pasti rasa penat kakiku akan berlipat ganda.
Aku mencoba mencari jalan pintas yang agak sepi, berharap bisa lebih cepat sampai ke apartemen. Namun kelihatannya usahaku itu mengarah pada sebuah kesialan besar.
Mobilku mendadak berhenti. Mesinnya tidak mau menyala.
Aku turun dari mobil setelah membuka kap mobil dengan menekan tombol yang ada di dalam mobil. Kuangkat kap mobil, mencoba mengecek satu-persatu keadaan mesin. Berusaha mengutak-ngatik mesin dengan sok tahunya.
Biasanya supir keluarga kami yang melakukan pengecekan rutin sebulan sekali.Tapi kelihatannya mobil ini belum dicek. Sial. Sial. Sial. Di jalanan yang bukan jalan raya ini sepertinya sulit mencari bantuan.
Sebuah mobil Toyota Yaris berhenti tepat di depan mobilku. Sesosok wanita keluar dari dalamnya tanpa memayungi dirinya. Kupandangi wanita yang berpakaian ala kantor itu.
Lian. Ternyata Lian. Mengapa di saat genting seperti ini yang muncul malah Lian? Konyol sekali jika Lian melihat kerepotanku saat ini.
“Flott. Kenapa mobil kamu? Mogok ya?” tanyanya lembut
“Oh, iya nih. Tiba-tiba aja berhenti. Aku udah ngecek-ngecek barusan. Kayaknya semua oke-oke aja deh,” jawabku kikuk
Dia langsung menyibukkan diri di balik kap mobilku. Mencoba mencaritahu apa penyebab mobilku mogok.
“Sedia air aki?” dia mengangkat wajahnya, menatapku ketika bertanya
“Ada di bagasi mobil,” aku segera melesat ke bagasi untuk segera mengambil botol air aki yang dia minta. Kuberikan botol akinya cepat-cepat padanya. Dia mengisi tangki aki lalu menutupnya. Dia juga menyerahkan kembali botol akinya padaku.
“Beres! Cuma kurang air akinya aja kok!” ujarnya senang, bersemangat. Ternyata hanya karena kurang aki? Malu sekali aku. Betapa bodohnya tidak tahu kalau aki mobilku kurang sehingga mobilnya mogok.
“Terima kasih, Lian,” ucapku malu-malu namun tulus.
“Sama-sama” balasnya singkat sambil tersenyum manis.
Kami berdua diam. Terhanyut dalam tatapan kami. Aku menatapnya. Dia menatapku. Keheningan menyelimuti kami karena hujan tidak lagi turun. Tidak ada lagi yang bersuara. Selain suara degup jantungku yang semakin cepat.
“Lian, aku mau ngomong sesuatu. Sudah lama aku mencoba mengartikan perasaanku padamu. Semakin lama aku semakin yakin bahwa perasaanku ke kamu adalah cinta. Mungkin ini terlalu mendadak buat kamu, tapi aku ingin tahu perasaan kamu ke aku gimana. Apa kamu mau menjadi kekasihku?” kuberanikan diri menyatakan semuanya, bahkan memintanya menjadi kekasihku.
“Flott, tunggu sebentar.” Lian mengeluarkan cermin lipat dari tas tangannya. Kemudian membukanya lalu mengarahkannya padaku.
Sial. Wajahku penuh dengan noda hitam. Sepertinya ini akibat aku terlalu dekat mengecek mesin-mesin itu dan tanpa sadar memegang-megang muka dengan tangan yang kotor.
Mana mau Dlyanne Smuras yang begitu dewasa menerimaku yang berwajah cemongan ketika menyatakan cinta sebagai kekasihnya?
* * *
Satu tahun kemudian,
Malam ini adalah malamku. Malam milikku dan pengantinku. Malam penuh kebahagiaan semua pihak yang sudah menunggu-nunggu saat ini. Saat pernikahanku. Saat aku sudah tidak lagi lajang. Saat aku sudah resmi menjadi suami dari seorang wanita.
“Flott, Papa dan Mama senang sekali akhirnya kamu bisa menikah juga. Apalagi kamu menikah dengan wanita yang sesuai kriteria Mama,” bisik Mama di telingaku saat kami semua sedang sibuk menyalami tamu-tamu di atas panggung.
“Ini karena aku juga sudah bosan mendengar desakkan Mama untuk segera menikah,” sahutku dengan suara pelan sebelum dicubit perutnya oleh Mama
Aku kembali tersenyum. Bahagia dengan semua ini. Bahagia dengan saat pernikahanku. Momen-momen pernikahanku yang tak akan pernah kulupakan sampai akhir hidupku nanti.
Kutatap wanita yang kini sudah resmi menjadi istriku. Wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku.Wanita yang akan mendampingiku seumur hidup. Wanita yang akan menemaniku hingga kami sama-sama tua nanti.
Untungnya wanita itu bukan wanita lain. Bukan wanita yang tak kukenal. Bukan wanita yang tak kuinginkan. Bukan wanita pilihan orang lain di luar pilihanku.
Wanita itu adalah Dlyanne Smuras. Wanita yang setahun lalu resmi menjadi kekasihku. Wanita yang sanggup membuatku jatuh cinta setiap hari. Wanita yang selalu membuat kejutan-kejutan manis. Wanita yang tak akan pernah berhenti kupuja.
Satu lagi, ia wanita yang menerima cintaku setelah memperlihatkan wajahku yang penuh noda hitam.
Biarkan orang mau berkata apa. Aku tak peduli aku menikah dalam usia tiga puluh tahun. Aku bahkan tidak peduli jika harus menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan saat pernikahan seperti ini.
Saat pernikahan dimana pada karangan-karangan bunga tertulis besar-besar nama Flott Rodiart dan Dlyanne Smuras. Saat pernikahan ketika aku bisa tersenyum bahagia sambil menggenggam erat tangan istriku. Juga saat pernikahan ketika MC menginstruksikanku untuk melakukan wedding kiss dengan Lian.
Kulirik kembali wajah istriku yang tampak begitu memikat dalam gaun pernikahannya. Wajahnya tampak berseri-seri dan begitu bahagia. Kugenggam tangannya. Kutatap dalam-dalam wajahnya.
"Kamu capek, Lian?"
"Nggak, aku terlalu bahagia untuk sekedar ngerasa capek,"
Kata-katanya itu membuatku tersentuh. Dia bahagia. Aku bahagia. Inilah yang selama ini kami cari. Kebahagiaan. Kali ini diwujudkan dengan pernikahan kami. Kusapukan pelan bibirnya yang lembut dengan bibirku ini. Tak cukup puas dengan momen wedding kiss tadi.
Ciuman kami berlangsung panjang. Lupa dengan semua tamu yang hadir, mereka semua kini sedang bertepuk tangan dengan riuh menikmati pemandangan di hadapan mereka. Aku tak peduli. Kami tak peduli.
Inilah kebahagiaan kami.
Well, marriage time is not when other people think it’s the time for you to get married. Marriage time is when you finally can get married with someone suits you. Someone who will stand by your side wherever you are.
21.19
Minggu, 25 Oktober 2009
Calvin
Labels:
fiction
2009/10/21
Buka Amplopnya
Setelah mengumpulkan niat yang cukup gede, gw akhirnya mutusin buat mulai ngirimin cerpen2 karya gw ke majalah-majalah. Berhubung selama ini gw udah sering nyoba ngirim cerpen lewat email dan ternyata dikacangin, gw nyoba ngirim lewat pos aja kali ini.
Majalah yg gw pilih adalah majalah "Teen". Kenapa? Karena dia terbit seminggu sekali, which means dia butuh lebih banyak cerpen dibandingin majalah-majalah lain yang terbit sebulan sekali.
Kemarin, ditemenin Angel dan Eilin, gw ngeposin cerpen karangan gw "Cinta Tak Peduli" (bisa dibaca cerpennya di bawah post ini) di kantor pos kampus 1 Untar, sebelah Mailshop. Jujur gw gak pernah ngepos lewat kantor pos, jadi thanks to Eilin dan Angel yang udah berbaik hati menolong.
Buat mastiin, hari ini gw nelpon ke redaksi majalahnya, nanya apa cerpen gw udah nyampe atau belum. Dia bilang kiriman cerpennya terlalu banyak, jadi susah kalau mau dicekin satu-satu. Gw maklum sih, emang pasti banyak banget yang ngirimin. Gw beraniin diri buat nanya ke mbaknya apakah biasanay cerpen2 yg mereka terima itu semuanya bakal dibaca atau nggak. Takutnya aja, dia numpukin yg dy males buka. Percuma dong usaha gw.
Yah, lepas dari segalanya, gw berharap banget kalo setidaknya anggota redaksi majalah "teen" setidaknya mau buka amplop itu dan baca cerpen gw.
At least mereka baca.
Dan, semoga aja cerpen gw bisa diterima..
Semoga. Semoga. Semoga.
19.45
Rabu, 21 Oktober 2009
Calvin
Majalah yg gw pilih adalah majalah "Teen". Kenapa? Karena dia terbit seminggu sekali, which means dia butuh lebih banyak cerpen dibandingin majalah-majalah lain yang terbit sebulan sekali.
Kemarin, ditemenin Angel dan Eilin, gw ngeposin cerpen karangan gw "Cinta Tak Peduli" (bisa dibaca cerpennya di bawah post ini) di kantor pos kampus 1 Untar, sebelah Mailshop. Jujur gw gak pernah ngepos lewat kantor pos, jadi thanks to Eilin dan Angel yang udah berbaik hati menolong.
Buat mastiin, hari ini gw nelpon ke redaksi majalahnya, nanya apa cerpen gw udah nyampe atau belum. Dia bilang kiriman cerpennya terlalu banyak, jadi susah kalau mau dicekin satu-satu. Gw maklum sih, emang pasti banyak banget yang ngirimin. Gw beraniin diri buat nanya ke mbaknya apakah biasanay cerpen2 yg mereka terima itu semuanya bakal dibaca atau nggak. Takutnya aja, dia numpukin yg dy males buka. Percuma dong usaha gw.
Yah, lepas dari segalanya, gw berharap banget kalo setidaknya anggota redaksi majalah "teen" setidaknya mau buka amplop itu dan baca cerpen gw.
At least mereka baca.
Dan, semoga aja cerpen gw bisa diterima..
Semoga. Semoga. Semoga.
19.45
Rabu, 21 Oktober 2009
Calvin
Labels:
experience,
hope
2009/10/17
Cinta Tak Peduli
Sesosok gadis berseragam putih abu-abu kini sedang duduk membaca buku di salah satu bangku pada bagian pojok perpustakaan seorang diri. Dia memang gadis yang tidak menarik. Gadis yang tidak masuk ke dalam salah satu daftar gadis-gadis yang harus segera dijadikan pacar di sekolah ini. Gadis yang tak pernah dilirik oleh lelaki muda normal manapun. Hanya karena dia dianggap kuper. Tidak memiliki pengetahuan mengenai bagaimana bergaul dengan asyik. Menurut teman-teman sekelas, yang ada di otaknya hanya materi pelajaran.
Dia adalah Kyena Razega. Pemilik nama cantik yang dinilai tak bisa membuat cantik penampilannya sendiri. Kulitnya yang putih dibiarkan begitu saja, tak digunakan sebagai aset tambahan untuk membuat lelaki di kelasnya mau meliriknya. Rambutnya yang begitu lurus malah diikatnya. Matanya yang begitu memesona dibingkai dengan kacamata yang berukuran besar.
Masalah membuat lelaki tertarik padanya memang tak pernah menjadi persoalan di benak Kyena. Dia bahkan tak peduli jika seluruh siswa di sekolahnya semuanya sudah saling berpasangan. Dia tidak pernah menjadikan semua itu menjadi proritasnya. Dia datang ke sekolah setiap hari untuk menuntut ilmu, bukan menuntut jodoh. Kyena memang seorang gadis yang berpikiran rasional. Dia ingin menjadi seorang wanita sukses yang bisa membanggakan dirinya sekaligus orangtuanya.
Menjadi berbeda dengan teman-teman sebayanya tak membuat dia merasa minder. Dijauhi beberapa jenis teman yang lebih memilih mengurus penampilan dan kecantikannya tidak menjadi masalah baginya. Dia tidak menginginkan popularitas.
Ketika sedang asyik-asyiknya membaca buku mengenai sejarah perkonomian Indonesia, jendela perpustakaan yang berjarak cukup jauh dengan lantai itu diketuk-ketuk. Tak urung, Kyena pun mengintip ke balik jendela. Sesosok laki-laki yang mengenakan seragam olah raga itu pun tersenyum singkat, mengisyaratkan Kyena untuk segera membukakan jendela. Meski merasa bingung, Kyena tetap membukakan jendela untuk laki-laki itu. Begitu jendela terbuka, dengan cepat laki-laki itu memanjat jendela yang cukup tinggi itu. Berusaha masuk. Namun, ketika dia hampir saja berhasil masuk, kakinya tidak dapat berpijak di lantai dengan baik sehingga ia terjatuh.
Lantai yang tidak terbuat dari keramik, melainkan ubin yang bertekstur kasar itu menggores lututnya. Darah keluar perlahan-lahan dari bagian lutut yang terluka itu. Kyena cepat-cepat mengeluarkan sebungkus Hansaplast. Dia membuka bungkusnya juga kertas putih penutupnya kemudian menempelkannya di lutut lelaki itu.
“Terima kasih,” ucapnya singkat. Lelaki itu pun tersenyum padanya. Kyena yang selama ini tidak pernah berkomunikasi dengan pria sebayanya pun bingung menentukan sikap. Dia balas tersenyum walaupun salah tingkah.
“Wow, ternyata koleksi buku-buku di perpustakaan ini cukup lengkap juga. Gue nggak pernah masuk ke sini sebelumnya,” tutur lelaki itu, “Untuk orang yang menjadi juara umum satu angkatan kayak lu pasti sering banget ya ngeluangin waktu buat baca-baca buku di sini, iya kan Kyena?”
Apa? Lelaki yang bahkan tidak diketahui namanya oleh Kyena ini mengetahui namanya dan bahkan mengetahui bahwa dirinya adalah juara umum satu angkatan? Sungguh aneh.
“Lumayan juga koleksinya. Cuma nggak selengkap toko buku Gramedia. Tapi untuk ukuran sekolah, cukup lah. Ngomong-ngomong, kenapa tadi mesti masuk lewat jendela dan bukannya lewat pintu depan?” tanyanya polos
Lelaki itu tersenyum jenaka, membuat Kyena merasakan sebuah sensasi di dalam hatinya. Sensasi yang selama ini tak pernah ia temukan. “Gue tadi kalah main futsal. Temen-temen gue maksa gue untuk traktir mereka bakmi ayam. Kebetulan hari ini gue lupa bawa dompet, jadi gue kabur deh. Mereka kan nggak bakalan tahu gue di sini.”
Kyena mengangguk-ngangguk, bingung harus melakukan apa. Dia merasa salah tingkah di hadapan lelaki yang begitu polos dan menarik ini.
“Oh iya, lu belum tahu nama gue. Kenalin, gue Clond Flurreant. Kelas 12 IPS 1,” Clond mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Kyena. Kyena balas mengulurkan tangannya ragu-ragu, begitu perlahan. Clond langsung menjabat tangannya cepat, tak membiarkan keraguan Kyena membatalkan prosesi jabat tangan mereka.
“Kyena Razega, Kelas 11 IPS 2,” ucapnya lirih.
* * *
Seluruh siswa sudah berbaris rapi di halaman sekolah untuk mengikuti upacara bendera yang rutin dilakukan setiap Senin. Seperti sengaja menambah penderitaan yang dirasakan siswa-siswi, matahari bersinar semakin terik.
Kyena merasa agak khawatir. Sedari pagi dia merasa kepalanya agak pening. Dia hanya sarapan sepotong roti tawar saja karena hampir terlambat berangkat sekolah. Dia tidak yakin bisa bertahan menghadapi teriknya matahari yang rasanya semakin menusuk-nusuk kepalanya.
Upacara pun dimulai. Kyena tidak terlalu mengikuti berlangsungnya upacara dengan fokus. Dia berusaha berdiri dengan tegak. Dia tidak mengeluh pada siapa pun, karena merasa bahwa tidak akan ada yang peduli pada dirinya. Dia tidak mau dianggap merepotkan oleh siapa pun.
Nyanyian “Indonesia Raya” pun hampir sulit didengarnya dengan baik. Kepalanya semakin berat. Tubuhnya semakin lemas. Hingga matanya pun menutup. Tubuhnya terhuyung sebelum akhirnya terjatuh.
Teman-temannya pun panik. Seorang siswa yang bertugas sebagai tim medis pun bergerak cepat. Dia langsung membopong gadis itu keluar dari barisan. Dia adalah Clond. Entah mengapa, Clond yang seharusnya sudah terbiasa menghadapi masalah seperti ini terlihat begitu khawatir.
Dalam perjalanan menuju ruang UKS, Kyena yang sedang digendong Clond perlahan-lahan membuka matanya, berusaha untuk sadar. Namun ia merasa begitu mual. Terlebih ketika ia memandang ke atas dan menemukan wajah seseorang yang sedang membopongnya. Rasa mualnya memuncak. Seluruh isi perutnya dimuntahkan. Muntahannya telah mengotori seragam Clond.
Seluruh siswa-siswi yang seharusnya sibuk dengan upacara ternyata malah memperhatikan mereka sedari tadi. Mereka menertawakan kejadian itu dengan kompak.
* * *
Setelah kejadian itu, semuanya berubah. Kyena semakin menutup dirinya. Dia malu dengan insiden upacara itu. Dia merasa telah mempermalukan Clond. Sosok yang ternyata selama ini telah mengalihkan pikirannya.
Pikiran yang menghantuinya begitu negatif. Dia malu. Malu telah pingsan ketika upacara berlangsung. Malu karena ditertawakan teman-temannya. Malu karena telah begitu joroknya memuntahkan isi perutnya pada lelaki yang kini begitu disukainya.
Kini dia pun merasa menyesal menjadi orang yang tak pernah dipedulikan siapa pun di sekolahnya. Menyesal karena menjadi tidak menarik. Menyesal pula telah menjadi orang yang begitu memalukan.
Seorang pecundang. Begitu pula Kyena menilai dirinya sekarang. Seorang pecundang yang selalu menghindarkan tatapan matanya ketika tak sengaja bertemu Clond di koridor sekolah. Seorang pecundang yang kini tak berani keluar dari kelas saat istirahat karena takut bertemu Clond. Seorang pecundang yang terus berusaha menyangkal kenyataan bahwa ia akhirnya telah jatuh pada seorang pria. Sesuatu yang selama ini tak pernah dirasakannya, atau bahkan pernah terpikir sejenak saja dalam benaknya. Mengapa rasa suka bisa hadir meski Kyena tak pernah mengharapkannya? Meski Kyena tak pernah memproritaskannya?
Tetapi hari ini dia harus datang ke perpustakaan. Buku yang sudah dipinjamnya sejak seminggu lalu harus dikembalikan paling lambat hari ini, jika dia tidak mau didenda. Sampai di perpustakaan, Kyena langsung menuju meja pustakawan. Mengurus pengembalian bukunya. Setelah selesai, gadis yang kini menggerai rambut panjangnya itu merasa tergerak untuk mengetahui apakah ada buku-buku baru di rak favoritnya. Rak khusus buku sejarah.
Kyena sibuk menyusuri buku-buku yang terpajang rapi di rak ketika mendengar suara seseorang yang dikenalnya. Suara Clond.
“Udah kembali ke dunia nyata setelah sembunyi begitu lama?” sindirnya tajam “Jujur aku nggak ngerti sama kamu. Kamu dari dulu selalu nyembunyiin diri kamu. Apalagi setelah kejadian dimana kamu pingsan dan muntahin aku. Kamu makin aneh aja. Kamu ngehindarin aku. Buang muka setiap ngelihat muka aku. Jujur aku sebel sama kamu. Kamu nggak ada rasa terima kasihnya sama aku yang udah capek-capek ngegendong kamu ke ruang UKS.” Emosi begitu menguasai Clond saat mengatakan semua itu.
Mengapa ia menggunakan subjek dan objek “Aku-Kamu” ya? pikir Kyena dalam hatinya.
“Terima kasih,” kata Kyena lirih, tak berani menatap mata Clond. Takut pertahanan dirinya runtuh. Kyena membalikkan tubuhnya untuk segera keluar dari perpustakaan. Dia tak sanggup berada di sini. Sayang ada tangan yang menahan lengannya.
“Begitu aja? Kamu emang keterlaluan, Kyena. Kamu nggak tahu betapa aku menderita mikirin apa kesalahan aku sampai kamu sebegitu bencinya sama aku. Sampai kamu ngehindarin aku. Aku terus bertanya-tanya sama diriku apa salahku sama kamu. Aku benci sama diri aku karena aku begitu ingin melihat kamu.” Clond membalikkan tubuh Kyena kembali, memaksa Kyena menatap matanya.
Ucapan Clond begitu menyentak dirinya. Tubuhnya kaku. Clond memerhatikannya? Clond mencari dirinya? Dan, Clond begitu ingin melihatnya?!
"Aku terlalu rindu sama kamu. Rindu melihat sikap salah tingkah kamu. Rindu sama semua yang aku lihat dari diri kamu. Berusaha ngumpulin semua kenangan aku sama kaumu yang terlalu sedikit itu untuk buat aku ngerasa seneng. Kenapa? Kenapa aku begitu? Kini aku tahu jawabannya. Aku sayang kamu."
Kyena merasakan lidahnya kelu. Dia ingin merespon apa yang baru saja diutarakan Clond. Tapi rasanya dia tak mampu. Semua ini begitu cepat. Begitu tiba-tiba. Kenyataan bahwa Clond menyayanginya begitu sulit ia terima karena dirinya terus menganggap itu tak mungkin.
"Tuh kan, kamu emang keterlaluan. Aku udah beraniin diri aku berbicara begitu banyak mengenai perasaan aku ke kamu, kamu malah diem aja." Clond terus menatap wajah Kyena dalam-dalam, menunggu responnya.
"Aku... Aku cuma ngerasa ini semua nggak mungkin. Aku ngerasa mungkin aja ini semua salah. Orang seperti kamu nggak mungkin sayang sama aku. Aku nggak menarik. Aku orang terpinggir. Aku nggak dipeduliin banyak orang. Nggak mungkin kamu sampai suka sama aku. Apalagi aku udah permaluin kamu dengan muntahin kamu di lapangan itu..." ucap Kyena terbata-bata
"Tunggu deh. Siapa yang bilang nggak mungkin? Kyena, nggak ada yang bisa ngatur seseorang untuk menyukai orang lain, atau nggak menyukai orang lain. Perasaan nggak bisa bohong. Yang aku tahu, aku suka sama semua yang aku temuin dari diri kamu. Kamu nggak boleh ngerasa diri kamu seperti itu. Semua orang punya sisi menariknya sendiri. Lagipula aku nggak ngerasa dipermaluin sama kamu. Jadi, kamu sendiri gimana sama aku?"
"Aku..." kalimat Kyena mengantung, "Jujur aku udah suka sama kamu ketika kamu jatuh dari jendela ke ubin perpus," senyum Clond merekah mendengarnya.
"Oh, jadi kamu suka ngelihat aku jatuh? Sama, aku juga suka lihat kamu pingsan apalagi muntah." Clond menyengir usil
"Kita gak normal ya? Saling suka sama hal-hal aneh."
"Gak apa-apa. Yang penting kita sama-sama suka," Clond menarik tangan kiri Kyena ke dalam genggamannya. Hal yang sudah lama ingin dirinya lakukan.
Benar. Clond benar. Yang penting mereka saling menyukai. Tak peduli Kyena tidak populer, tidak menarik. Tak peduli Clond jatuh dari jendela. Tak peduli Kyena pingsan dan memuntahi Clond. Cinta tak peduli implikasi dan dugaan-dugaan negatif yang muncul dari satu sisi.
Cinta memang tak peduli.
15.48
Sabtu, 17 Oktober 2009
Calvin
Notes:
Cerita ini emang khusus dibuat untuk segmen remaja. Jadi emang bisa dibilang kurang ada ide maksimal. Cuma untuk dikirimin ke majalah remaja. Udah pas belum sama cerpen-cerpen remaja di majalah?
(btw, udah lama gw gak nulis cerita dari sudut pandang orang ketiga...)
Dia adalah Kyena Razega. Pemilik nama cantik yang dinilai tak bisa membuat cantik penampilannya sendiri. Kulitnya yang putih dibiarkan begitu saja, tak digunakan sebagai aset tambahan untuk membuat lelaki di kelasnya mau meliriknya. Rambutnya yang begitu lurus malah diikatnya. Matanya yang begitu memesona dibingkai dengan kacamata yang berukuran besar.
Masalah membuat lelaki tertarik padanya memang tak pernah menjadi persoalan di benak Kyena. Dia bahkan tak peduli jika seluruh siswa di sekolahnya semuanya sudah saling berpasangan. Dia tidak pernah menjadikan semua itu menjadi proritasnya. Dia datang ke sekolah setiap hari untuk menuntut ilmu, bukan menuntut jodoh. Kyena memang seorang gadis yang berpikiran rasional. Dia ingin menjadi seorang wanita sukses yang bisa membanggakan dirinya sekaligus orangtuanya.
Menjadi berbeda dengan teman-teman sebayanya tak membuat dia merasa minder. Dijauhi beberapa jenis teman yang lebih memilih mengurus penampilan dan kecantikannya tidak menjadi masalah baginya. Dia tidak menginginkan popularitas.
Ketika sedang asyik-asyiknya membaca buku mengenai sejarah perkonomian Indonesia, jendela perpustakaan yang berjarak cukup jauh dengan lantai itu diketuk-ketuk. Tak urung, Kyena pun mengintip ke balik jendela. Sesosok laki-laki yang mengenakan seragam olah raga itu pun tersenyum singkat, mengisyaratkan Kyena untuk segera membukakan jendela. Meski merasa bingung, Kyena tetap membukakan jendela untuk laki-laki itu. Begitu jendela terbuka, dengan cepat laki-laki itu memanjat jendela yang cukup tinggi itu. Berusaha masuk. Namun, ketika dia hampir saja berhasil masuk, kakinya tidak dapat berpijak di lantai dengan baik sehingga ia terjatuh.
Lantai yang tidak terbuat dari keramik, melainkan ubin yang bertekstur kasar itu menggores lututnya. Darah keluar perlahan-lahan dari bagian lutut yang terluka itu. Kyena cepat-cepat mengeluarkan sebungkus Hansaplast. Dia membuka bungkusnya juga kertas putih penutupnya kemudian menempelkannya di lutut lelaki itu.
“Terima kasih,” ucapnya singkat. Lelaki itu pun tersenyum padanya. Kyena yang selama ini tidak pernah berkomunikasi dengan pria sebayanya pun bingung menentukan sikap. Dia balas tersenyum walaupun salah tingkah.
“Wow, ternyata koleksi buku-buku di perpustakaan ini cukup lengkap juga. Gue nggak pernah masuk ke sini sebelumnya,” tutur lelaki itu, “Untuk orang yang menjadi juara umum satu angkatan kayak lu pasti sering banget ya ngeluangin waktu buat baca-baca buku di sini, iya kan Kyena?”
Apa? Lelaki yang bahkan tidak diketahui namanya oleh Kyena ini mengetahui namanya dan bahkan mengetahui bahwa dirinya adalah juara umum satu angkatan? Sungguh aneh.
“Lumayan juga koleksinya. Cuma nggak selengkap toko buku Gramedia. Tapi untuk ukuran sekolah, cukup lah. Ngomong-ngomong, kenapa tadi mesti masuk lewat jendela dan bukannya lewat pintu depan?” tanyanya polos
Lelaki itu tersenyum jenaka, membuat Kyena merasakan sebuah sensasi di dalam hatinya. Sensasi yang selama ini tak pernah ia temukan. “Gue tadi kalah main futsal. Temen-temen gue maksa gue untuk traktir mereka bakmi ayam. Kebetulan hari ini gue lupa bawa dompet, jadi gue kabur deh. Mereka kan nggak bakalan tahu gue di sini.”
Kyena mengangguk-ngangguk, bingung harus melakukan apa. Dia merasa salah tingkah di hadapan lelaki yang begitu polos dan menarik ini.
“Oh iya, lu belum tahu nama gue. Kenalin, gue Clond Flurreant. Kelas 12 IPS 1,” Clond mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Kyena. Kyena balas mengulurkan tangannya ragu-ragu, begitu perlahan. Clond langsung menjabat tangannya cepat, tak membiarkan keraguan Kyena membatalkan prosesi jabat tangan mereka.
“Kyena Razega, Kelas 11 IPS 2,” ucapnya lirih.
* * *
Seluruh siswa sudah berbaris rapi di halaman sekolah untuk mengikuti upacara bendera yang rutin dilakukan setiap Senin. Seperti sengaja menambah penderitaan yang dirasakan siswa-siswi, matahari bersinar semakin terik.
Kyena merasa agak khawatir. Sedari pagi dia merasa kepalanya agak pening. Dia hanya sarapan sepotong roti tawar saja karena hampir terlambat berangkat sekolah. Dia tidak yakin bisa bertahan menghadapi teriknya matahari yang rasanya semakin menusuk-nusuk kepalanya.
Upacara pun dimulai. Kyena tidak terlalu mengikuti berlangsungnya upacara dengan fokus. Dia berusaha berdiri dengan tegak. Dia tidak mengeluh pada siapa pun, karena merasa bahwa tidak akan ada yang peduli pada dirinya. Dia tidak mau dianggap merepotkan oleh siapa pun.
Nyanyian “Indonesia Raya” pun hampir sulit didengarnya dengan baik. Kepalanya semakin berat. Tubuhnya semakin lemas. Hingga matanya pun menutup. Tubuhnya terhuyung sebelum akhirnya terjatuh.
Teman-temannya pun panik. Seorang siswa yang bertugas sebagai tim medis pun bergerak cepat. Dia langsung membopong gadis itu keluar dari barisan. Dia adalah Clond. Entah mengapa, Clond yang seharusnya sudah terbiasa menghadapi masalah seperti ini terlihat begitu khawatir.
Dalam perjalanan menuju ruang UKS, Kyena yang sedang digendong Clond perlahan-lahan membuka matanya, berusaha untuk sadar. Namun ia merasa begitu mual. Terlebih ketika ia memandang ke atas dan menemukan wajah seseorang yang sedang membopongnya. Rasa mualnya memuncak. Seluruh isi perutnya dimuntahkan. Muntahannya telah mengotori seragam Clond.
Seluruh siswa-siswi yang seharusnya sibuk dengan upacara ternyata malah memperhatikan mereka sedari tadi. Mereka menertawakan kejadian itu dengan kompak.
* * *
Setelah kejadian itu, semuanya berubah. Kyena semakin menutup dirinya. Dia malu dengan insiden upacara itu. Dia merasa telah mempermalukan Clond. Sosok yang ternyata selama ini telah mengalihkan pikirannya.
Pikiran yang menghantuinya begitu negatif. Dia malu. Malu telah pingsan ketika upacara berlangsung. Malu karena ditertawakan teman-temannya. Malu karena telah begitu joroknya memuntahkan isi perutnya pada lelaki yang kini begitu disukainya.
Kini dia pun merasa menyesal menjadi orang yang tak pernah dipedulikan siapa pun di sekolahnya. Menyesal karena menjadi tidak menarik. Menyesal pula telah menjadi orang yang begitu memalukan.
Seorang pecundang. Begitu pula Kyena menilai dirinya sekarang. Seorang pecundang yang selalu menghindarkan tatapan matanya ketika tak sengaja bertemu Clond di koridor sekolah. Seorang pecundang yang kini tak berani keluar dari kelas saat istirahat karena takut bertemu Clond. Seorang pecundang yang terus berusaha menyangkal kenyataan bahwa ia akhirnya telah jatuh pada seorang pria. Sesuatu yang selama ini tak pernah dirasakannya, atau bahkan pernah terpikir sejenak saja dalam benaknya. Mengapa rasa suka bisa hadir meski Kyena tak pernah mengharapkannya? Meski Kyena tak pernah memproritaskannya?
Tetapi hari ini dia harus datang ke perpustakaan. Buku yang sudah dipinjamnya sejak seminggu lalu harus dikembalikan paling lambat hari ini, jika dia tidak mau didenda. Sampai di perpustakaan, Kyena langsung menuju meja pustakawan. Mengurus pengembalian bukunya. Setelah selesai, gadis yang kini menggerai rambut panjangnya itu merasa tergerak untuk mengetahui apakah ada buku-buku baru di rak favoritnya. Rak khusus buku sejarah.
Kyena sibuk menyusuri buku-buku yang terpajang rapi di rak ketika mendengar suara seseorang yang dikenalnya. Suara Clond.
“Udah kembali ke dunia nyata setelah sembunyi begitu lama?” sindirnya tajam “Jujur aku nggak ngerti sama kamu. Kamu dari dulu selalu nyembunyiin diri kamu. Apalagi setelah kejadian dimana kamu pingsan dan muntahin aku. Kamu makin aneh aja. Kamu ngehindarin aku. Buang muka setiap ngelihat muka aku. Jujur aku sebel sama kamu. Kamu nggak ada rasa terima kasihnya sama aku yang udah capek-capek ngegendong kamu ke ruang UKS.” Emosi begitu menguasai Clond saat mengatakan semua itu.
Mengapa ia menggunakan subjek dan objek “Aku-Kamu” ya? pikir Kyena dalam hatinya.
“Terima kasih,” kata Kyena lirih, tak berani menatap mata Clond. Takut pertahanan dirinya runtuh. Kyena membalikkan tubuhnya untuk segera keluar dari perpustakaan. Dia tak sanggup berada di sini. Sayang ada tangan yang menahan lengannya.
“Begitu aja? Kamu emang keterlaluan, Kyena. Kamu nggak tahu betapa aku menderita mikirin apa kesalahan aku sampai kamu sebegitu bencinya sama aku. Sampai kamu ngehindarin aku. Aku terus bertanya-tanya sama diriku apa salahku sama kamu. Aku benci sama diri aku karena aku begitu ingin melihat kamu.” Clond membalikkan tubuh Kyena kembali, memaksa Kyena menatap matanya.
Ucapan Clond begitu menyentak dirinya. Tubuhnya kaku. Clond memerhatikannya? Clond mencari dirinya? Dan, Clond begitu ingin melihatnya?!
"Aku terlalu rindu sama kamu. Rindu melihat sikap salah tingkah kamu. Rindu sama semua yang aku lihat dari diri kamu. Berusaha ngumpulin semua kenangan aku sama kaumu yang terlalu sedikit itu untuk buat aku ngerasa seneng. Kenapa? Kenapa aku begitu? Kini aku tahu jawabannya. Aku sayang kamu."
Kyena merasakan lidahnya kelu. Dia ingin merespon apa yang baru saja diutarakan Clond. Tapi rasanya dia tak mampu. Semua ini begitu cepat. Begitu tiba-tiba. Kenyataan bahwa Clond menyayanginya begitu sulit ia terima karena dirinya terus menganggap itu tak mungkin.
"Tuh kan, kamu emang keterlaluan. Aku udah beraniin diri aku berbicara begitu banyak mengenai perasaan aku ke kamu, kamu malah diem aja." Clond terus menatap wajah Kyena dalam-dalam, menunggu responnya.
"Aku... Aku cuma ngerasa ini semua nggak mungkin. Aku ngerasa mungkin aja ini semua salah. Orang seperti kamu nggak mungkin sayang sama aku. Aku nggak menarik. Aku orang terpinggir. Aku nggak dipeduliin banyak orang. Nggak mungkin kamu sampai suka sama aku. Apalagi aku udah permaluin kamu dengan muntahin kamu di lapangan itu..." ucap Kyena terbata-bata
"Tunggu deh. Siapa yang bilang nggak mungkin? Kyena, nggak ada yang bisa ngatur seseorang untuk menyukai orang lain, atau nggak menyukai orang lain. Perasaan nggak bisa bohong. Yang aku tahu, aku suka sama semua yang aku temuin dari diri kamu. Kamu nggak boleh ngerasa diri kamu seperti itu. Semua orang punya sisi menariknya sendiri. Lagipula aku nggak ngerasa dipermaluin sama kamu. Jadi, kamu sendiri gimana sama aku?"
"Aku..." kalimat Kyena mengantung, "Jujur aku udah suka sama kamu ketika kamu jatuh dari jendela ke ubin perpus," senyum Clond merekah mendengarnya.
"Oh, jadi kamu suka ngelihat aku jatuh? Sama, aku juga suka lihat kamu pingsan apalagi muntah." Clond menyengir usil
"Kita gak normal ya? Saling suka sama hal-hal aneh."
"Gak apa-apa. Yang penting kita sama-sama suka," Clond menarik tangan kiri Kyena ke dalam genggamannya. Hal yang sudah lama ingin dirinya lakukan.
Benar. Clond benar. Yang penting mereka saling menyukai. Tak peduli Kyena tidak populer, tidak menarik. Tak peduli Clond jatuh dari jendela. Tak peduli Kyena pingsan dan memuntahi Clond. Cinta tak peduli implikasi dan dugaan-dugaan negatif yang muncul dari satu sisi.
Cinta memang tak peduli.
15.48
Sabtu, 17 Oktober 2009
Calvin
Notes:
Cerita ini emang khusus dibuat untuk segmen remaja. Jadi emang bisa dibilang kurang ada ide maksimal. Cuma untuk dikirimin ke majalah remaja. Udah pas belum sama cerpen-cerpen remaja di majalah?
(btw, udah lama gw gak nulis cerita dari sudut pandang orang ketiga...)
Subscribe to:
Posts (Atom)
















